Uang itu sama seperti kodrat penciptaan komponen alam semesta yang lain, cukup bahkan melimpah untuk Anda. Anda tidak ada yang kekurangan sinar matahari dan oksigen, semuanya cukup dan melimpah disediakan. Uang juga hakikatnya sama seperti itu, cukup dan melimpah karena sama-sama tercipta sebagai pelayan kebutuhan Anda.
Anda lihat pawang ular, betapa mereka bisa bermain asik dengan ular buas sama seperti asiknya Anda bermain dengan anak TK? Di samping punya ilmunya, pawang ular itu punya mental kokoh berhadapan dengan ular. Artinya mereka tidak lemah hati pada ular. Beda dengan Anda dan saya, baru lihat ular saja dengan reflek menjerit keri.
Anda dan saya lemah hati pada ular, bagaimana bisa menjinakkan ular?
Nah uang itu cukup dan melimpah, makanya Tuhan dengan besar hati berstatement, “Semua makhluk melata di bumi, Allah jamin rezekinya,” karena memang Tuhan merasa Dia tidak pernah menciptakan rezeki dengan porsi minimalis, porsinya selalu cukup dan melimpah-limpah untuk Anda.
Berarti masalah kekurangan duit itu dari sisi mana? Ya seperti Anda menghadapi ular, bukan ularnya yang tidak bisa dijinakkan, tapi Anda yang tidak punya mental yang cukup.
Api, benda tajam, hewan buas, benda keras, banyak orang-orang yang bisa menaklukannya. Di training-training saja banyak trainer menggunakan media api untuk pelatihan atasi mental block pada panasnya api dengan menyuruh peserta berjalan di atas bara api.
Mental Anda kalah duluan pada uang, Anda lemah hati. Itu masalahnya.
Lemah hati—apalagi lemah hati pada uang, di mana alam ini bukan hanya alam spiritual semata, namun diakui atau tidak segalanya UUD (ujung-ujungnya duit)—merupakan ingkar nikmat level jumbo.
Sebab nikmat tertinggi adalah nikmat penciptaan Anda sebagai manusia, hingga Tuhan menyebut Anda “al-a’laun” (makhluk paling tinggi derajatnya).
Matahari saja yang makhluk super panas dan super besar ditundukkan Tuhan melayani Anda demi menghargai diri Anda, tapi malahan Anda ingkar dengan nikmat penciptaan Anda tersebut. Anda makhluk terhebat, eeh baru menghadapi uang, mentalnya sudah lemah hati. Cengeng!
Anda senang melihat anak cengeng? Geram, dan inginnya tendang saja. Sama seperti Tuhan, melihat Anda lemah hati pada uang, Dia makin ingin menendang Anda.
Karena ini, pesan Tuhan jelas sekali;
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu lemah hati, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Âli Imrân: 139).
Daerah-daerah perbatasan Indonesia, seperti Kota Tarakan, Batam, Natuna, di sana biaya hidup mahal. Mahalnya biaya hidup di sana apa jadikan perekonomian Kota Tarakan paling terpuruk di Indonesia? Tidak. Normal-normal saja, kan? Malahan daerah-daerah tersebut boleh disebut daerah dengan ekonomi baik.
Di negara-negara maju justru biaya hidup lebih tinggi karena serba mahal. Apa jadikan negara-negara tersebut makin miskin? Tidak.
Maka kalau Anda berpikir dapat “murah” itu meningkatkan rezeki, di situ Anda gobloknya kebangeten.
Murah itu trik penjual bagaimana menarik pembeli. Harga 400 ribu, di bandrol ditulis Rp. 399.000,00 ini trik penjualan agar laris manis.
Jadi murah itu bukan trik bagaimana Anda meningkatkan rezeki, itu sebagian dari ilmu manajemen pemasaran, sama seperti trik early bird, discount, bonus, dan lain-lain.
Tahun 1996 waktu awal krisis moneter semua orang menjerit karena harga-harga naik berkali-kali lipat. Sekarang Anda rasakan biasa saja, bukan? Padahal sejak krisis moneter harga-harga tidak pernah turun lagi.
Harga murah juga tidak pernah menyelesaikan masalah keuangan. Toko di kampung-kampung, yang jual murah sama saja nasibnya dengan yang jual standar, sama-sama dihutangi pembeli. Starbuck yang kopinya mahal sama saja larisnya dengan warung angkringan yang kopinya murah. Sekolah-sekolah yang memurahkan biaya pendidikan, sama saja dengan sekolah yang pakai biaya standar, sama-sama banyak yang ijazah para siswanya tidak ambil karena mereka mengemplang biaya pendidikan.
Maka susahnya finansial bukan masalah apa-apa mahal, tapi karena mental Anda yang murahan, maunya cari harga murah. Mental Anda yang lemah hati pada uang.
Jadi beban berat pada finansial itu masalah mental Anda pada uang. Masalah hutang tidak bisa bayar, masalah susah rezeki, masalah tidak bisa biayai anak sekolah, itu semua masalah mental lemah hati. Penyebab awalnya persis seperti Anda lihat ular, histeri ketakutan duluan.
Lalu bagaimana sih atasi lemah hati pada uang?
Uang itu realita material, keluar dari mental lemah hatinya tidak cukup dengan afirmasi dan sugesti, tapi harus berlatih di dunia nyata.
Umpama Anda lemah hati pada harga di nominal angka tertentu, biasakan sekalian membeli. Biasakan dan terus biasakan.
Kalau sudah biasa kejadiannya persis seperti Anda hadapi kenaikan harga saat krisis moneter di saat ini, tidak kerasa apa-apa. Dan uangnya, saat ini, untuk beli harga sesuai harga krisis moneter tahun 1996 juga ada dan tetap ada, kan?
Setelah terbiasa, pasti finansial Anda stabil, dan saat sudah stabil, jangan pernah menurunkan lagi, karena bisa merusak pola kemampuan finansial Anda.
Maka ini beruntunglah Anda yang terbiasa beli barang mahal, mewah dan melimpah, karena itu membentuk pola kebiasaan. Sudah jadi pola ya akhirnya cukup dan ada. Dan merugilah Amda yang terbiasa irit dan cari murah, karena itu juga membentuk pola kebiasaan.
Dan apa yang Anda biasakan itulah kebutuhan Anda. Kalau sudah kebutuhan, rezeki ada tanpa diada-adakan.
Mental lemah hati pada kredit hutang, pada belanja, pada biaya pendidikan, itu semuanya sama.
Umpama bayar kredit hutang. Anda nekat dulu, tidak makan tidak apa asal bisa bayar hutang. Nanti sebulan dua bulan sudah stabil lagi, uang untuk makan dan uang untuk bayar hutang jadinya ada. Dan saat itu, dirasa di hati juga jadi biasa-biasa saja.[]
