Mundur isin


-mundur malu-

Adalah frasa dalam bahasa Jawa yang maknanya kurang lebih sepadan dengan “gengsi” dalam bahasa Indonesia.

Dikatakan ‘sepadan’ tapi tidak sama persis karena frasa ‘mundur isin’ itu tidak sekedar memuat ekspresi KESOMBONGAN tetapi jauh lebih dalam lagi. Pada frasa Jawa itu selain kesombongan juga memuat adanya ekspresi ingin didengarkan dan meminta-menyuruh untuk dituruti kemauannya. Orang yang disebut “mundur isin” itu kondisinya diantara sadar dan tidak sadar.

Maksudnya, dia sebenarnya mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan pikiran, ucapan dan atau tindakannya tetapi dia tidak menyadari ketika ambisi-ambisinya mengarahkannya untuk menyangkal serta menutup-nutupi semua kesalahannya itu dengan membuat kegaduhan yang lebih besar bahkan sering kali sudah keluar dari konteks. Naah….kegaduhan-kegaduhan yang muncul dari ambisi-ambisinya itulah yang melengkapi makna ‘mundur isin’ itu.

Orang yang mulai terjangkiti sakit mundur isin biasanya lalu cenderung membuat garis demarkasi: kalau tidak sama atau setuju denganku berarti pihak lawan. Penderita sakit jiwa ini tidak lagi mampu memahami makna “berbeda”, yang ada dalam perasaannya hanyalah “sekutu atau lawan”. Ya memang sebenarnya semua berawal dari ketidakmampuannya membedakan antara perasaan dengan pikiran. Dia kira perasaannya adalah bentuk pikirannya.

Dan memang penyakit jiwa mundur isin itu paling potensial dialami oleh orang-orang yang NAIF, Normatif. Sejak jaman dulu orang Jawa mengidentifikasi ciri-ciri calon orang yang berbakat naif-normatif itu dari indikasi suatu polah tingkah yang berupa: GUMUNAN (gampang heran), KAGETAN (gampang kaget).

jejaksinoer

Diterbitkan oleh Ndok Celpok.

Daripada Tidak Nulis.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai