Daripada tidak menulis

Saya bertemu Sukilah pemilik usaha salon ternama ” Puspita”,ya, dia adalah teman lama.Ketika itu saya sedang leyeh – leyeh di pinggir sawah, selesai membantu mertua angkat-angkat gabah di sawah ,kebetulan rumahnya dekat sawah yang di garap mertua saya.Setelah sempat tanya – tanya tentang kabarnya, kemudian dia menyuruhku mampir,katanya sekedar reuni kecil-kecilan ,tanpa basa-basi saya langsung mengikuti Sukilah menuju rumahnya.

Sukilah sendiri yang membukakan pintu untuk saya. Ternyata ia sendirian saja di Rumah.

“Iki mas omahku saiki dadi ngeneiki maklum seng mbiyen keno gempa! .” Jelasnya dengan senyum yang menawan.

“Ehm… enggih, Mbak,” jawab saya gugup.
Ia kemudian mempersilakan saya untuk duduk di kursi.

Di ruang tamu rumah sukilah , saya serasa melayang penuh rasa tidak percaya. Bagaimana tidak, saya dulu sering duduk di ruang tamu ini, dan sekarang diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan teman baikku,bahkan bisa di bilang teman spesial.Meskipun sekarang dengan keadaan yang berbeda.Sukilah sekarang sudah jadi orang sukses.

Namanya juga teman, pertanyaannya pun tentu saja tentang kabar apa saja yang menjadi kegiatan sehari – hari.

“Kosek yo, Mas. Aku tak nelpon anakku ndisik, ben ora bingung nggoleki aku,” ujarnya pada saya yang masih dipenuhi dengan perasaan senang bercampur tidak percaya,
Ruang tamu rumah sukilah ini luas masih seperti dulu hanya sekarang pintunya menghadap barat.

Saya sempat terdiam beberapa saat, masih tak percaya seorang Sukilah ada di depan mata saya. Namun perlahan, saya mulai bisa menguasai keadaan dan mulai terbiasa.

Begitu selesai dengan hpnya , Sukilah kemudian duduk di kursi sofa berwarna krem dengan posisi duduk yang sangat anggun. Cara duduknya benar-benar merepresentasikan cara duduk seorang kembang desa kelas atas. 

Ia memakai blazer putih dengan bawahan berwarna hijau ngejreng seperti warna rompi pak ogah. Blazernya yang putih membuat tubuhnya yang kuning langsat tampak semakin eksotis. Bongkahan pahanya yang sehat dan tampak begitu terawat menyembul dengan sangat provokatif, membuat dada saya beberapa kali berdesir kencang.

Sembari saya menyulut rokokku yang tinggal tiga batang, ia tak henti-hentinya menyunggingkan senyum sembari sesekali menanyakan pertanyaan-pertanyaan remeh pada saya.

“Wis suwe, Mas, dadi petani?” tanyanya.

Saya sedikit kaget mendapatkan pertanyaan mendadak tersebut, saya tak menyangka bahwa ia ternyata punya inisiatif untuk bertanya lebih dahulu. Mungkin ia paham dengan kegugupan saya, sehingga ia mengambil menuver cantik untuk memecah kebekuan dan kegugupan saya.

“Ehm… eh, lumayan lah, Mbak. Yo wis rong tahun iki…” jawab saya dengan agak terbata. “Maune aku kerjo serabutan, kadang dadi bakul, kadang dadi buruh, kadang yo dadi petani lepas.”

“Yo teko ditlateni wae, Mas. Sing penting ono hasile…”

“Nggih, Mbak Sukilah …” jawab saya

“Halah, rasah nganggo mbak, teko Sukilah thok, koyo ro sopo wae lho.”

“Siap, lapan anam, Mbak Sukil… eh, Sukilah ,anu ….”

Namun, belum sempat saya menyelesaikan perkataan saya, Sukilah buru-buru memotong.

“Welha, rasah nggo grogi barang,ngomahku ora ono sopo – sopo. Teko ngobrol santai wae,” katanya. “Anggep wae lagi ngobrol koyo mbiyen, konco dhewe…”

Saya terpaksa menuruti apa saran Sukilah . Walaupun dalam hati, saya masygul juga, sebab terus terang saya ndak enak kalau ada tetangga yang tahu,saya berada di rumahnya hanya berdua. Tapi yah, mau bagaimana lagi, kalau Sukilah sudah berkehendak, saya bisa apa.Lagipula, saya juga takut ia tidak nyaman jika saya tidak menuruti perintahnya.

“Oke, jadi teko ngobrol santai wae, ya?”

“Hoo, teko ngobrol santai wae.”

Saya pun mulai mencoba memancing dengan pertanyaan seputar kehidupannya setelah di tinggal mati suaminya karena kecelakaan enam tahun yang lalu.

Sukilah sengaja memilih pulang dan tinggal di rumah lamanya daripada tinggal di rumah alm suaminya yang berada di kota Jogja .Karena mungkin di sini lebih nyaman dan mungkin bisa mengingatkan dirinya dengan masa kecilnya, menurut Sukilah rumah ini merupakan tempat yang penuh kenangan dan secara tidak langsung memengaruhi semangat hidupnya.

“Jadi ngene, Mbak…” kata saya.

“Nah, tho, dikandani ngeyel, wis tak kandani rasah nganggo ‘Mbak’ kok yo iseh dibaleni wae.”

“Oiya, lali…”

“Ngene, Sukilah ,” ujar saya. “Ah, ketoke ora pantes je nek aku ngundang sampeyan tanpo ‘Mbak’, aku ngundange ‘Mbak Sukilah ’ wae yo, ben luwes…”

“Yo wis, sakkarepkmu.”

“Ngene, Mbak.Sampeyan kan milih manggon neng ndeso. Nah, iso dicritakke ora ngopo sampeyan milih ndeso ? Padahal neng Jogja kan rame, akeh tempat sing sip nek ngge mbukak salon, po nggon liyane ngono.”

Sukilah tampak memasang pandangan menerawang. Ingatannya seakan melayang jauh ke belakang.

Ia bercerita bahwa di rumahnya itulah pertama kalinya Sukilah membuka usaha salon dan rias pengantin.Dan sekarang menjadikan dia terkenal.

“Aku isih cilik pas kuwi, Mas. Ketoke lulus SMK.Wes ora tau hubungan ro kowe, Wektu kuwi aku diajak budeku sing ndilalah ndue usaha salon kecantikan ,” kenangnya. “Saking semangate , Budeku kuwi ngasi adol sapi nggo nyilihi modal mbukakke salon nggo aku.”

Saya tertawa kecil. 

Sukilah mengubah posisi duduknya. Kali ini dengan kaki menyilang yang membuat pahanya tampak semakin provokatif saja.

“Aku maune ora patio mudeng piye kuwi carane ngadepi wong ngerias penganten, tapi aku teko gelem wae diajak budeku. Tekan kono, aku akhire ngerti, jebul macak utowo ngrias pengantin ki nyenengke, isoh ngucel-ucel sirahe wong liyo tapi sing di mek-mek ora nesu” kenangnya.

“Trus sampeyan betah melu budhemu?”

“Hoo… Pas aku melu deknen nyalon kuwi, jan, aku langsung yakin nek aku kudu iso koyo budke ku siji iki,” jelas Sukilah . “Penghasilane kuwi lho, delit we meso, pokoke nyenengke pooool.” 

“Nek budhemu. ngono pancen lejen, jaminan mutu,” kata saya.

“Aku iseh kelingan biyen pas melu budheku ngrias anake bupatine, tanggapke ndangdut juk aku melu nyanyi, wah, pokoke mulyane pwooool.”

Sukilah kemudian berdiri dan mencoba menirukan bagaimana Sukilah menyanyikan lagu yang bercerita tentang acara tersebut .

” Secawan madu…. “
” Yang kau berikan….

Usai memberikan sedikit aksi menyanyi tersebut, Sukilah kemudian duduk kembali.

“Terusan lirik’e aku lali, hehehe,” katanya sambil meringis geli.

Saya ikut geli.

“Wis lah, pokoke nyenengke.lan ngguyokke” kata dia. “Pas Aku kuwi nyanyi, aku ndelok tamune podo melu nyanyi kabeh. Pokoke suangar lah, Mas,” lanjutnya.

“Wah, aku njuk melu mbayangke rasane nonton konser ndangdut neng Thr, Mbak”

“Pokoke meriah, Mas. Gara-gara kuwi aku akhire pengin dadi koyo Mbak penyanyi ndanggdut. Aku njuk nduwe cita-cita dadi penyanyi. Mangkane, nek aku saiki kadang dadi penyanyi koyo saiki, kuwi salah sijine mergo biyen aku melu budheku neng acara mantenan turut ndeso, tapi nek neng kuto ora patio payu aku mas.”

“Oalah, jadi kuwi alesane sampeyan mekso milih panggon neng ndeso ?”

“Hoo, Mas!”

Saya kemudian bertanya tentang masa kecil Sukilah di desanya. Sukilah memang menghabiskan masa kecil sampai masa remajanya di desa,bahkan saya sempat juga menjadi bagian masa remajanya waktu saya masih SMA. Sebelum akhirnya ia hijrah ke kota Jogja, untuk mengejar mimpinya sebagai penyanyi ndanggdut.

Masa kecil Sukilah di Desa boleh dibilang penuh dengan kisah keprihatinan.

Ayahnya kala itu bekerja sebagai buruh citak batu bata dengan penghasilan yang tak menentu. Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai penjual sayur keliling.

Berada dalam keadaan serba kekurangan, Sukilah terpaksa harus ikut bekerja sepulang sekolah demi membantu keluarganya. Berbagai pekerjaan sambilan ia jalani demi mendapatkan uang untuk biaya makan dan tambahan uang sekolahnya.

“Mergo kahanan aku kepekso nyambut gawe nggo keluargaku, Mas,” ujarnya lirih. “Kadang aku melu ider sayur, kadang aku dadi tukang umbah-umbah,” lanjutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Mendengar jawabannya itu, timbul simpati dan rasa kekaguman saya pada sosok kembang desa yang satu ini. Betapa dia memulai kesuksesannya dengan penuh kerja keras. Saya memang tahu tentang kisah pilu kehidupan Sukilah semasa remaja karena dia sering jalan sama saya yang juga kurang lebih bernasib sama, namun saya tak menyangka jika kisahnya semenyedihkan itu.

Kendati hidup dalam kesusahan, Sukilah tak lantas larut dalam keadaan. Sukilah justru makin semangat mengejar impiannya menjadi seorang pengusaha salon kecantikan sekaligus penyanyi ndanggdut.

“Pokoke dangdut dan salon harga mati!” kata Sukilah bersemangat. “Ora dangdut , ora!”

Kehidupan masa lalunya yang susah itu nyatanya justru ikut menjadi perantara berkah dan kejayaan bagi kariernya. Mental hidup susahnya yang sudah teruji saat kecil membuat Sukilah tidak lantas menjadi pribadi yang boros dan sombong setelah merengkuh kesuksesan.

Selain itu, nama salon usahanya karena terinspirasi oleh kehidupan masa susah Sukilah . Salah satu salon yang paling terkenal di daerahku tentu saja adalah salon yang bernama “Puspita”

Salon“Puspita” yang hampir semua orang, setidaknya di daerahku , itu masuk dalam deretan salon top dan teratas di daerahku.

Saya mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut tentang usaha salon itu, dan Sukilah memceritakan satu rahasia besar tentang “Puspita”.

“Nama ‘Puspita’ iki terinspirasi seko uripku rikolo jaman sengsoro, Mas,” terangnya dengan mata yang semakin basah.

Sukilah sempat terdiam cukup lama ketika saya menanyakan hal itu lebih jauh.

“Jaman biyen, selain melu mburuh dadi tukang sisik batu bata, aku yo kerep nyambi dadi tukang nggolek keong sawah njuk di gawe sate keong,Mas,” ujarnya.

Kali ini, pertahanan air matanya tak bisa ditahan lagi. Air matanya jebol. Maskaranya mulai luntur tak beraturan. Saya reflek mengambil tissu yang berada di meja dan memberikannya pada Sukilah .

Ia kemudian menghapus air matanya dengan tissu bermerek Alfamidi yang baru saja saya sodorkan padanya.

“Aku nek kelingan jaman semono mesti trenyuh, Mas,” Katanya terisak. “Bali sekolah, begitu udan, aku langsung nyangking payung njuk budhal sawah, nutupi boto nggo getepe jaman semono urung umsum plastik koyo saiki.”

“Wah, uripe sampeyan kebak perjuangan yo, Mbak?”

“Iyo. Bocah liyane udan-udanan nggolek seneng, aku udan-udanan nggolek pangan, mas…”

“Opo ora wedi keno masuk angin?”

“Halah, aku wis ra sempet mikir masuk angin, aku mikire piye carane nggolek duit. Ora kudanan ora mangan.”

Menurut Sukilah , Nama Puspita, menceritakan tentang seorang sahabatnya yang ikut membantunya menutup batu bata lalu tersambar petir. Demi kesembuhannya, sang sahabat terpaksa harus menjalani terapi di sebuah klinik pengobatan alternatif.

“Jenenge Puspita, deknen tonggo deso, bocahe mesakke, podo mlarate koyo keluargaku,” tuturnya. “Saiki bocahe wis rabi, tangan kiwone kudu diamputasi.”

Sukilah kemudian beranjak dari kursinya, berjalan menuju jendela, ia memandangi pemandangan hamparan sawah dengan tatapan yang kosong. 

Saya tak berani menganggunya. Ia terdiam cukup lama. 

Ia lantas kembali ke kursi dengan air mata yang sudah semakin menggenang.

“Dingapuro ya, Mas…” ujarnya dengan suara yang parau karena ia tak bisa menangis tangis. “Aku kegowo perasaan.”

“Iyo, rapopo, Mbak. Aku ngerti perasaane sampeyan.”

Kondisi tersebut membuat saya memutuskan untuk menghentikan sesi tanya jawab pada temanku.Saya merasa tak bisa menanyakan lebih banyak pertanyaan sebab Sukilah tampak sangat emosional dan sentimentil mengenang masa lalunya. Kondisi Sukilah sedang tak stabil.

“Nggih mpun, Mbak Sukilah ,ngobrole teruske kapan-kapan wae, dilanjut lewat wa, nek saiki ketoke ora kondusif,” terang saya.

“Iyo, Mas… pisan meneh, aku njaluk ngapuro, yo”

“Santai, Mbak…”

Agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan, sembari bersiap-siap pulang , saya pun mencoba mengalihkan pembicaraan seputar anak-anaknya yang sudah menganjak remaja.

Sukilah kembali terdiam larut akan kenangan masa lalunya.

“Bali sekolah aku yo kerep dodolan kacang godok neng terminal Giwangan, Mas,” ujar Sukilah sembari kembali menangis meraung-raung. Saya jadi kelimpungan sendiri. Untung rokok saya sudah habis, sehingga saya bisa menenangkan Sukilah sembari menepuk pundaknya.

“Rasah terlalu dieling-eling, Mbak. Kuwi kan wis dadi masa lalu.”

Ia hanya terdiam dan terisak.

Sambil beranjak untuk keluar dari rumahnya, saya mencoba memberikan sebuah pertanyaan terakhir terkait dengan penolakannya kepadaku dulu.

“Btw, Mbak Sukilah,masih ingat nggak saya dulu pernah ….”

“Kabeh ikhlas tak lakoni, sing penting halal, Mas” ujarnya setengah berbisik sembari menyeka air matanya yang masih mengalir.

Klik lainnya 👇


jejaksinoer.

Diterbitkan oleh Ndok Celpok.

Daripada Tidak Nulis.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai