PEREMPUAN itu selalu berkata dalam hati, “Aku pernah cantik.”
Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berjibaku dengan tumpukan baju kotor, detergen bubuk yang membuat kulit mengelupas, serta tali jemuran kendur yang terpancang dari batang pohon mangga ke pohon jambu. Ia tak pernah membayangkan akan berjalan di atas tanah becek sisa hujan. Sambil menjinjing bak besar berisi pakaian basah yang beratnya mohon ampun. Dengan sandal jepit kedodoran yang berbunyi telepak-telepok dan memuncratkan lumpur ke betis belakangnya yang dulu pernah begitu ramping.
Kalau sedang jengkel, ia akan menyeret bak cuci berisi pakaian basah itu dari kamar mandi sampai ke bawah pohon mangga. Tak peduli bak plastik itu akan retak atau terbelah dua. Suatu kali itu pernah terjadi. Menyeret bak cuci itu sampai terbelah hingga cucian-cucian yang sudah dibilas itu berbaur dengan tanah. Ia tak memunguti baju-baju yang kembali menjadi kotor itu, alih-alih mengilas-ilasnya di tempat lantaran jengkel. Membuat baju-baju itu berlepotan tanah.
Kejengkelan dan rasa lelah yang sangat membuatnya jadi begitu. Namun, pada akhirnya ia memungutinya juga. Memindahkannya ke bak lain, lantas membilasnya lagi sampai bersih. Itu ia lakukan sambil menangis. Selalu menangis. Wajahnya suram. Dan anak-anak rambut menutupi keningnya yang basah. Ia menyekanya dengan tangan beraroma detergen.
Tak seorang pun mengetahui kemurungan itu, kecuali gadis kecil berusia 4 tahun yang selalu mendekatinya dan bertanya, tapi tidak dengan nada bertanya, “Mama menangis? Mama menangis ya?”
***
Perempuan itu pernah cantik. Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berdiri di depan kompor, sambil melemparkan ikan asin ke dalam wajan yang telah digenangi minyak panas berwarna kehitaman. Mengeluarkan suara jesss… Minyak-minyak itu muncrat ke dinding dapur, lantai, dan dasternya. Dan setelah selesai memasak, ia akan membersihkannya. Semuanya. Aroma ikan asin menguar memenuhi udara. Menempel di dasternya. Di rambutnya. Di sekujur tubuhnya.
Selepas itu, ia akan mencuci cabai, mengupas bawang, dan mengulek sambal di atas cobek. Ia mengulek dengan gerakan berulang seperti orang bergoyang. Betapa semua pekerjaan itu sungguh menjemukan. Jauh dari perangai cantik seorang peragawati.
Bagaimanapun, suaminya harus sarapan di pagi hari, segera, sebelum berangkat kerja. Begitu pula balitanya, yang sangat menggemari ikan asin, juga dirinya sendiri. Suatu kali ia teringat, di masa muda, ia pernah makan di sebuah hotel dengan pisau dan garpu. Serta bunga amarilis dalam gelas besar di tengah meja. Ia duduk menyilangkan kaki sambil berbincang dengan kawan-kawannya yang barangkali sampai detik ini masih cantik, tak seperti dirinya. Ia merindukan makan di tempat seperti itu, dengan hidangan seperti itu, dan berdampingan dengan kawan-kawan seperti itu. Namun, ia tahu, hal semacam itu tak akan pernah terulang dalam hidupnya. Tak akan pernah.
***
Semua orang tahu, perempuan itu memang pernah cantik. Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berhadapan dengan setumpuk piring kotor serta wajan licin berminyak di wastafel tua dan berkerak. Sabun cuci piring berwarna hijau bening itu ia tuang ke dalam mangkuk kecil dengan spons berkerut dan kawat cuci. Ia memeras spons itu dan busa-busa mengembang. Ia menggosok piring-piring dan mangkuk dan wajan dan panci dan sendok, perlahan-lahan. Sambil memperhatikan jari-jemarinya yang dulu pernah begitu lembut. Dengan kuku-kuku mengilap berkuteks merah menyala.
Kadang kala, saat perkakas dapur itu benar-benar menggunung, ia benar-benar ingin meminum sabun cuci piring berwarna hijau bening beraroma jeruk nipis itu. Meminum semuanya. Tandas. Sampai ia roboh dan menggelinjang dengan busa-busa keluar dari mulutnya. Dan ia tertawa sendiri. Sabun cuci piring bukanlah racun tikus yang bisa membunuh seseorang. Kalaupun ingin mati, ia bisa saja menggantung diri di bawah pohon mangga atau pohon jambu. Namun, ia belum ingin mati. Seberat apa pun hari-harinya, ia belum ingin mati. Ada gadis kecil mungil tak berdosa yang selalu membutuhkannya.
***
Setiap kali mematut diri di muka cermin, perempuan itu kerap menggumam, “Dulu aku pernah cantik.”
Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah berangan akan mengesot di lantai sambil mengepel bekas pipis anaknya. Rumah itu tak terlalu lebar, tapi balitanya adalah balita normal yang suka ngompol di mana suka. Gemar merontokkan makanan yang dicekalnya. Suka menumpahkan susu dan semacamnya di lantai. Ia tak tahan dengan lantai kotor, yang licin dan berminyak, apalagi bersemut. Maka, tiap kali balitanya membuat kekacauan di atas lantai, ia akan segera mengesot, mengelap ubin-ubin itu menjadi cling.
Kadang ia sangat jengkel pada balitanya itu, ingin memutar waktu, dan memasukkan bocah itu kembali ke dalam perut. Ia merasa begitu sial telah melahirkan seorang bayi. Namun, beberapa menit kemudian, ia benar-benar menyesal telah berpikiran kejam seperti itu. Bahkan, penyesalan seperti itu kerap membuatnya menangis. Sambil menatap wajah balitanya yang tertidur, ia berbisik ke telinga mungil itu, “Maafkan mama, Nak! Maafkan mama, Nak!”
Beberapa kali, ketika ia sangat lelah, dan balitanya kembali membuat ulah, ia sangat ingin meneriaki balita itu tepat di mukanya, lantas menamparnya atau memukul pantatnya atau mencubitnya. Namun, ia tahu, perlakuan-perlakuan semacam itu tak akan pernah membuat balitanya berhenti. Ia hanya balita, yang hanya tahu makan, menangis, serta buang air. Ia bahkan tak tahu apa yang sedang dilakukannya. Sebab, ia hanya balita yang belum memiliki nalar. Karena itu, ia tak pernah melakukan hal-hal kejam semacam itu kepada balitanya. Sebab, ia yakin, setelah melakukan itu, ia pasti akan sangat menyesalinya. Sangat menyesalinya.
Maka, jika ia sangat lelah, dan balitanya tak henti-henti membuat ulah, ia akan berlari ke kamar mandi. Mencelupkan segenap kepalanya ke dalam air dan berteriak sekencang-kencangnya. Rambutnya basah. Dasternya basah. Napasnya megap-megap. Dan ia tak pernah peduli. Seolah sangat tidak masalah kalau daster basah itu akan membuatnya kedinginan, lalu membuatnya sakit, lalu membuatnya mati.
***
“Aku memang pernah cantik.” Selepas mandi sore bersama anaknya, ia akan berdiri di muka cermin. Sambil menunggu suaminya pulang kerja. Ia berlama-lama di muka cermin, mencari-cari jejak kecantikan yang barangkali masih tersisa. Namun sungguh, ia nyaris tak pernah menemukannya. Kulit wajah yang kencang itu telah mengendur. Persis bentuk tubuh yang menggelambir mirip buah pir. Matanya yang dulu binar telah meredup. Dihiasi garis-garis tipis di tiap sudutnya. Rambut yang dulu pekat mengilap dan selalu tampak basah itu kini kusam dan bercabang, bahkan mulai beruban. Ke mana perginya kecantikan masa muda?
Orang mungkin tak ’kan percaya bahwa di masa muda ia pernah menjuarai kontes kecantikan tingkat kota. Tepatnya tiga kali. Ia diundang ke hotel bintang lima berbaur dengan model-model lain dari berbagai kota. Melenggang di atas panggung. Mempertontonkan kecerdasan serta kecantikan luar dalam. Membuat banyak orang terpukau. Ketika itu ia membayangkan akan mendapatkan seorang suami yang tampan dan kaya. Seorang bintang film mungkin. Dan kelak, kalau ia harus punya anak, pembantunya yang akan mengurus dan ia bisa tetap cantik dari waktu ke waktu.
Namun, nasib berkata lain. Ia malah menikah dengan seorang pemuda yang biasa-biasa saja. Tidak tampan, tidak romantis, tidak juga kaya. Berperawakan ceking dan bermuka tirus. Bekerja di sebuah agen asuransi dan kadang-kadang, kalau ada waktu, mengajari anak tetangga mengaji serta berhitung. Kadang dikasih amplop, kadang tidak.
Kadang-kadang ia berpikir bahwa hidupnya seperti mimpi. Bagaimana bisa ia menikah dengan lelaki yang tak pernah ia bayangkan itu. Ia tak tahu apakah ia mencintai suaminya. Yang jelas, ia takut kehilangan lelaki itu. Jika itu yang dinamakan cinta, mungkin ia memang mencintai lelaki itu. Sangat mencintainya. Dan ia sangat menghormati lelaki itu –meski kerap kali ia sangat jengkel padanya. Lelaki yang sehari-hari hidup dengannya, tapi hampir tak memiliki waktu untuknya dan anaknya. Kecuali akhir pekan yang kadang kala masih disita kerja lembur dan semacamnya.
Sesekali ia sangat ingin duduk di dekat lelaki itu sambil bercerita, betapa hari-harinya teramat berat dan melelahkan dan ia sangat butuh sandaran untuk beristirahat. Namun, semua itu tak pernah ia lakukan. Sebab, setiap pulang kerja, mata lelah yang sama ia temukan di mata lelaki itu. Di mata suaminya.
Sebagaimana suaminya, ia tak pernah bertanya apa saja yang sudah dilalui lelaki itu di luar sana. Ia tak tahu, barangkali, setiap pagi dan petang, lelaki itu harus berjibaku dengan asap dan jalanan macet, di atas motor bututnya. Barangkali ia tidak sempat makan siang. Dikepung pekerjaan yang menumpuk. Ditegur atasannya dan seterusnya…
Melihat mata lelah pencari nafkah itu, ia tak sampai hati dan memilih membiarkan lelaki itu beristirahat dengan caranya sebagaimana ia beristirahat dengan caranya sendiri. Biasanya, selepas makan malam, lelaki itu akan bercengkerama di dalam kamar dengan balitanya. Hingga mereka tertidur saling memeluk. Di sela hari-hari yang berat dan melelahkan, detik itulah yang paling indah dan paling ia nanti. Ketika suami dan anaknya tertidur.
Saat demikian, ia akan kembali ke dapur, membersihkan dan mencuci puing-puing sisa makan malam. Sambil memikirkan bahwa sejatinya hidupnya tidak terlalu buruk. Ia yakin ada seseorang di luar sana yang tak memiliki apa pun, hingga barangkali belum makan sesuap nasi pun sampai selarut ini. Setelah pekerjaan-pekerjaan rumah yang hampir tak ada habisnya itu beres, ia masuk ke dalam kamar dengan wajah semringah. Ia menyelimuti suaminya. Membetulkan letak tidur balitanya.
Sebelum benar-benar memejamkan mata, kerap kali ia melihat dirinya di masa lalu tengah terbang di langit-langit kamarnya. Kadang berjalan anggun di udara. Dan selalu ada suara lembut yang berbisik di ambang kesadaran… Kau pernah cantik. Kau memang pernah cantik. ***
Kegiatan bersepeda tak hanya menjadi tren di kota – kota besar, namun juga di kota-kota lainnya. Hal ini terlihat dari laman media sosial yang isinya ramai oleh foto-foto orang yang memamerkan kegiatan bersepeda mereka, baik untuk sekadar melewatkan akhir pekan maupun gowes santai sembari menikmati alam.
Ya, bila kebetulan sedang berada di Yogyakarta, kamu bisa menjajal bersepeda di salah satu jalurnya yang cukup menantang, ditemani pemandangan alam yang asri dan udara yang sejuk. Jalur tersebut terletak di Desa Mangunan,_Dlingo,_BantulPatung kuda Imogiri
Jalur Mangunan sudah terkenal di kalangan penggemar sepeda atau goweser sebagai jalur yang menawarkan suasana syahdu, terutama bila dilintasi saat pagi hari. Trek di kawasan ini didominasi oleh kawasan hutan pinus yang masih asri . Suasananya pun sepi, sementara udaranya sejuk. Namun, butuh kekuatan fisik ekstra untuk melintasi jalur Mangunan karena lokasinya berada di dataran tinggi.
Dari pusat kota Yogyakarta, kamu tinggal mengarahkan sepeda menuju Jalan Imogiri. Jalan raya beraspal mulus sejauh 10 km tersebut nyaman untuk dijadikan pemanasan, dan berhenti di bukit-bego sebelum akhirnya memasuki jalur tanjakan menuju Mangunan dengan jarak tempuh kurang lebih 5 km. Di sepanjang jalan, tak jarang kamu akan menjumpai pesepeda yang terpaksa menuntun sepeda mereka saat melewati jalur ini.Salam dua pedal
Perjalanan berlanjut memasuki kawasan wisata watu goyang kemudian masuki wilayah Hutan_Pinus_Mangunan dengan di tandai gapura selamat datang di pertigaan Mangunan, kalau belok kiri menuju hutan pinus dengan pemandangan pohon yang rindang di kanan kiri jalan, dengan tanjakan yang lebih tajam dan berkelok-kelok.
Atau bisa juga kamu dari gapura mangunan lurus. Dari sini, lanjutkan perjalanan sampai gardu pandang Kebun Buah Mangunan, yang biasa dijadikan destinasi terakhir para pesepeda.
Di spot setinggi 200 mdpl ini, kamu dapat melihat hijaunya kawasan Bantul dengan aliran sungai Oyo yang membelahnya. Dari sini pula kamu dapat melihat Jembatan Gantung Imogiri yang sering dijadikan spot untuk berfoto.
Bila tiba di Kebun Buah Mangunan menjelang matahari terbit, kamu akan disuguhkan lautan awan yang terbentang luas menutupi area perbukitan di sekitarnya, kemudian perlahan menghilang disinari mentari pagi. Rasa letih mengayuh sepeda seolah sirna terbayarkan dengan panorama yang disajikan oleh tempat ini.
Lokasi kebun buah Mangunan.
Total jarak tempuh dari pusat kota Yogyakarta sampai lokasi ini sekitar 23 km. Sangat melelahkan memang, tetapi itu semua akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Untuk masuk ke kawasan wisata Mangunan, kamu cukup membayar tiket sebesar Rp5.000 per orang di hari biasa dan Rp6.000 per orang di akhir pekan.
Jalan nanjak dan berliuk- liuk.
Pemandangan makam raja- raja Mataram dari jalur mangunan.
Gowes kali ini kita menuju ke Gunung Wangi Bangkel berangkat bertiga saja.Saya sengaja ngajak gowes pagi ini ke sini biar dapat menikmati gorengan dan teh panas.
Wisata Gunung Wangi bagi sebagian goweser sudah banyak yang mengenal, untuk menjangkaunya pun cukup mudah di Jalan Wonosari, KM 11 ada papan petunjuk arah masuk ke obyek wisata. Ada 2 tracking jalur gowes pilihan, jalan agak curam dan landai.
Sepanjang jalan menuju puncak juga bertumbuh beberapa lapak kuliner dan tempat nongkrong kekinian yang seakan semacam pospit (pemberhentian) apabila goweser tidak kuat mencapai puncak.
Menu kuliner hampir sama dengan obyek-obyek wisata lainnya, namun ada satu jenis minuman yang ikonik yaitu Wedang jahe sere, minuman yang bukan sekadar penghangat tubuh namun juga menyehatkan karena berisi aneka rempah hasil bumi setempat.
Kompleks Pemakaman Ki Suratmo suryokusumo.
Sesampai di puncak, sebuah kompleks pemakaman bakal menyambutmu. Di sanalah tubuh RM Sutatmo Suryokusumo yang masih keturunan trah Pakualam disemayamkan.
RM Sutatmo adalah sepupu RM Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Dia berkontribusi juga pada bidang pendidikan Indonesia.
Daftar Suku Cadang Fast Moving, Komponen yang Mesti Diganti Rutin
Source : Fairuz Zabadi
Kalau punya kendaraan jelas kita juga mempunyai tanggung jawab untuk merawatnya. Kita mesti kasih perawatan terbaik dan semaksimal mungkin biar motor kamu tetap prima dan bebas dari masalah. Seiring berjalannya waktu dan pemakaian, tentu saja membuat suku cadang tersebut mengalami deformasi atau menurunnya kinerja part tersebut. Terdapat penggolongan sparepart yang memiliki beban kerja berat yang harus diganti rutin setiap beberapa kilometer, yakni suku cadang fast moving.
Nah, apa saja komponen sparepart yang mesti rutin diganti atau kerennya disebut fast moving parts tersebut? Simak berikut ini ya!
1. Oli Mesin
Ganti oli mesin secara rutin bikin motor awet
Baik motor matic atau manual, oli ini perannya sangat vital. Ada oli mesin dan ada oli gardan khusus untuk matic. Oli mesin punya peran sebagai pelumas komponen friksi di dalam mesin. Oli itu semacam darah di tubuh manusia. Dan jangan lupa, kalau fakta oli lainnya juga untuk meratakan panas yang ditimbulkan mesin.
Bayangin kalau darah di dalam tubuh kamu nggak mengalir, mampet, atau makin dikit. Nah, oli mesin juga begitu, kalau oli mesin udah nggak licin, warnanya makin hitam pekat, harus buru-buru diganti. Ya kalau memang pemakaian rutin tiap hari, paling nggak sebulan sekali ganti-lah oli. Oleh sebab itu, oli juga termasuk suku cadang fast moving ya.
2. CVT Matic
Kanvas ganda CVT mengalami aus
Sebagai komponen penyalur daya dari mesin, V-belt dalam rangkaian CVT tentu mendapat beban kerja yang cukup berat. Begitu juga roller, kampas ganda maupun per CVT. Semua komponen yang disebutkan di atas saling berkaitan. Apabila salah satu mengalami masalah, komponen yang lain akan terpengaruh. Oleh sebab itu, komponen penggerak CVT ini wajib mendapat perawatan rutin. Sempatkan tiap 20.000 Km atau siklus ganti oli, komponen ini diperiksa. Rata-rata bagian CVT ini baru minta diganti pada 40.000 Km ke atas, itupun tergantung pemakaian. Semakin sering motor digunakan, maka makin cepat juga komponen harus sering diganti.
Ganti Per CVT Lebih Keras, Akselerasi Matic Lebih Responsif
3. Rantai dan Gear
Tegangan rantai yang pas mencegah rantai cepat putus
Sama seperti CVT pada matic, rantai dan gear menopang tanggung jawab besar. Karena beban yang besar inilah, terkadang rantai mudah melar atau gir mengalami aus. Bahkan kelamaan gear dan rantai terjadi oblak. Peristiwa seperti ini terjadi karena rantai jarang dilumasi. Apabila gejala rantai timbul bunyi berisik, segera periksa kerenggangan rantai. Segera ganti dengan rantai set dengan gear agar keduanya lebih awet.
4. Busi
Suku cadang yang satu ini emang kecil. Tapi kalau udah bermasalah, nyusahin juga, sob. Busi berfungsi memantik api biar pembakaran mesin bisa bekerja sebagaimana mestinya. Kalau sudah kotor mending diganti jangan dibersihkan. Penggantian busi biasanya dilakukan kalau motor kesayangan udah menempuh jarak 20.000 km sampai 50.000 km.
5. Aki
Aki pada motor kekinian juga sangat penting dan harus bekerja dengan normal. Terlebih untuk motor berteknologi injeksi. Aki ini berfungsi mengoperasikan sistem kelistrikan motor termasuk ECU. Apabila kamu pakai aki basah harus rutin dicek kondisi atau kapasitas air akinya. Sedangkan aki kering punya daya tahan yang lebih lama. Motor baru akan diganti tiap 1,5-2 tahun sekali. Itu pun dengan pemakaian rutin. Aki akan semakin awet kalau motor tiap hari dipakai.
6. Kanvas Rem dan Kaki-kaki
Perangkat pengereman nggak boleh dianggap remeh. Sebagai suku cadang fast moving penunjang keselamatan dan kenyamanan berkendara, bagian ini penting untuk diperhatikan. Kampas rem mestinya rutin diganti, atau kalau kanvas rem udah mulai tipis. Penggantian kanvas rem biasanya dilakuin tiap 20.000 km. Nah, sebaiknya sekalian periksa juga bagian kaki-kaki. Bagian seperti swing arm, tromol dan laher roda yang rentan rusak karena jalanan yang dilalui. Komponen ini wajib ganti kalau terjadi masalah.
7. Kanvas Kopling
Buat kamu yang pake motor sport atau manual, harus rutin juga ngecek kanvas kopling, terlebih sering dipake stop n go. Kanvas kopling bakalan habis sesuai kondisi jalanan yang sering dihadapi. Penggantian kanvas kopling disaranin dicek saat memasuki 10.000 hingga 50.000 Km atau pemeriksaan saat perawatan rutin. Kampas kopling yang aus bakal nyusahin saat hendak oper gigi, dan lebih parahnya bisa selip pas motor dikebut.
Tapi biar lebih awet, perhatikan dulu cara kamu berkendara. Hindari jari tangan selalu berada di tuas kopling. Kopling yang tertekan setengah-setengah malah bikin kampas seperti digerus.
8. Filter
Bagian penyaring ini aja 3 jenis, filter udara, bensin dan oli. Filter udara motor biasanya punya usia pakai yang relatif rendah. Terlebih yang sering melewati wilayah yang tinggi polusi dan debu. Sebenarnya, fungsi saringan udara ini buat menjaga kualitas bahan bakar yang digunakan agar tetap bersih nggak terkontaminasi. Filter udara adalah yang paling sering minta ganti secara berkala. Selain itu ada pula filter oli dan filter bensin. Komponen penyaring ini juga harusnya sering diganti, bukan hanya dibersihkan. Sebab ada beberapa jenis filter yang menggunakan material kertas yang jika di semprot kompresor atau dicuci bensin bakal rusak.
Suku Cadang Fast Moving, Macam Filter Motor Yang Mesti Dirawat
9. Ban
Ban bakalan sering ganti biasa disebabkan faktor eksternal dan internal. Faktor eksternalnya kalau kamu “hobi” hantam jalan rusak ya bakal cepat rusak. Atau sering gas-rem yang bikin ban cepat botak. Faktor internalnya antara kelebihan atau kekurangan tekanan bannya, sob.
Biasanya ban bakalan ganti tiap 3 tahun sekali atau batas maksimal pemakaian 40.000 km. Sebenarnya tergantung pemakaian juga, kok.
Di kios klitikhan pagi hari seperti ini memang paling enak leyeh-leyeh di lincak di depan kios ini. Lha namanya juga masih pagi, baru jam delapan, pembeli juga belum ada yang nongol. Biasanya, pembeli memang baru pada pating jedhul kalau sudah jam sepuluh-sebelas.
Tapi dasar niat saya buka kios mruput agar bisa istirahat,ngantuk banget pagi ini, semalam saya lek-lekan nonton bola sampai subuh,jadi maklum kalau pagi ini saya ngantuk berat, kebetulan profesi saya adalah bakul kecil-kecilan di pasar klitikhan.Kalau di rumah ndak bisa seenaknya leyeh-leyeh seperti di kios. Lha kalau saya konangan leyeh-leyeh,pas istri sedang isah – isah piring atau pas umbah-umbah, ancaman di uncali parut biasanya dengan mudahnya menculat dari mulut Istri saya itu. Memang sih, biasanya itu cuma ancaman sambel, lha tapi kalau ndilalah istri sedang khilaf dan nguncalne parut ke saya beneran gimana? Lak yo bobrok to ndaa.
Mangkanya, saya cuma berani leyeh-leyeh santai kalau pas di kios,semacam jurus untuk nglungani gawean rumah atau pindah tidur, kalau pun leyeh-leyeh di rumah, pasti istri saya itu pas tidak di rumah, entah pas belanja sayuran, atau pas pulang ke rumah mertuaku.
Satu jam lebih saya klekaran di lincak, mat dan eco sekali rasanya, makler, hadeuh… serasa bakul ningrat saya ini. teko njuk turu jian kurang elit piye.
Sampai tak sadar kalau ada bang penyok bakul sebelah, yang juga pedagang klitikhan sedang besut-besut atau membersihkan daganganya sambil batuk-batuk yang sengaja di keraskan suaranya agar saya lekas bangun,sempat kulirik saat saya ngliler,dia mondar-mandir dan tidak berani membangunkan tidur saya,mungkin karena saya tidurnya kelihatan angler atau mungkin terlihat sangat capek.
Tetapi yang namanya bang penyok,kalau punya unek-unek atau perasaan yang mengganjal di hati biasanya langsung diceploskan pada saya atau pada siapa saja yang sering di ajak ngobrol,kebetulan pasar klitikhan pagi ini baru ada saya dan saya pun sedang klekaran dengan nikmatnya,teman-teman lain sesama bakul belum pada datang.
Tiba-tiba bunyi yang keras mengagetkan leyeh-leyeh saya.mak glondheng,ternyata bang penyok menjatuhkan salah satu daganganya,pelek roda motor yang tentunya bunyinya lumayan mengagetkan karena jaraknya tidak lebih dari lima meter dari tempat saya tiduran.
Saya lalu bangun dari posisi klekaran jadi duduk biasa.’Wah, nyebai tenan,’batin saya, sayang sekali, pagi yang seindah ini terpaksa saya lalui dengan tidur sak leran dan mimpi yang kagol.
“Ada apa je lek ? “Saya membuka keran percakapan antara kami berdua,dengan kondisi mata yang masih ngantuk.
“Biasa,ben kowe tangi.Pamite kerjo kok tekan nggone ming turu”. kata bang penyok yang kira-kira usianya sepantaran dengan bapak saya, sambil senyum tetapi terlihat seperti nyengenges.Saya cuma diam kemudian bang penyok ikut duduk di lincak ini.
“Anu je,depan kios itu tadi banyak kembang semebar.”lanjut bang penyok sambil menuding lokasi kios yang di maksud dan dia mengatakannya dengan mengebu-gebu.
Obrolan yang meluncur deras dari mulut bang penyok, di saat saya masih ongap-angop dengan mulut yang terbuka lebar,saking ngantuknya.Sialan bagi saya, pagi – pagi segini sudah di ajak ghibah.Tapi yang namanya tetangga ya sebisanya saya nglegani bang penyok ini,padahal kalau boleh milih,jelas saya pilih melanjutkan mimpi ku yang aduhai di pagi ini.
Saya tak menyangka,bang penyok yang kelihatannya woles dan unyu itu ternyata begitu serius menanggapi kembang yang tersebar di dekat kiosnya,menganggap itu mistis dan pekat.
“Sajakke si ketel (nama samaran) nggo pesugihan po yo,akhir-akhir iki tiap jum’at pagi saya selalu nemu kembang di depan kiosnya”.clekop bang penyok lagi.
“Ahh, mosok to lik,”jawab saya.
” Yo, isoh wae tho,nyatane dodolane yo laris manis terus ngono kok. “
“Laris kepiye to lik,”
“Laris kok kepiye, laris ki yo laris,titenono ngedep opo wae lak payu.” jelas bang penyok sambil di kernyit-kernyitkan dahinya,dan itu membuat saya tertawa,berarti ini pertanda dia sedang serius.
“Maksudnya,lha kalau bisa laris kok njenengan mboten ngge pesugihan bang penyok?.”tanya saya asal.
Sampai di titik ini,bang penyok benar-benar bingung dengan pertanyaan saya. Betapa tidak, ini butuh jawaban yang sulit.Bang penyok sempat senang karena tahu kalau pesugihan bisa bikin laris daganganya tetapi syarat nya itu lho yang bikin dia bingung katanya.Saking cuntelnya karena usahanya ungkris-ungkrisen bang penyok ternyata juga pernah konsultasi ke dukun tentang pesugihan.
Tapi begitu tahu tentang mekanisme pertumbalanya,bang penyok langsung mak jêgagik mlintir. Mental bang penyok yang nggleling ternyata langsung lembek bak krupuk sayur.
“Sidone Sampéyan wani bang penyok?” tanya saya
“Aku mikir, sebenarnya syarat sih ndak susah-susah banget, Cuma nyêlipke duit seminggu sekali di bawah tikar. Tapi yo itu, kalau terlupa sekali saja, aku yang jadi tumbalnya. Yang namanya menungso ki,nganggo lali je. Lha kalau ndilalah suatu waktu aku lupa nyêlipke duit di bawah tikar, lak yo modar tho aku !”.
“Njuk akhirnya sampeyan jadi ambil ndak bang ? penasaran ini” kali ini saya gencar yang bertanya.
“Akhirnya, aku ndak berani , daripada kena mêmolo, lebih baik mundur!”
“Jirih gundulmu amoh kuwi, lha yang jadi jaminan tumbal ki saya sendiri je, lha kalau yang jadi tumbal tonggone, mesti bakal langsung tak lakoni!”, balas bang penyok menohok saya.
“Lha terus, nek si ketel nggo pesugihan tapi sisuk ndilalahe njaluk tumbale tonggone paling cerak piye bang ?.”
“Lha yo kuwi sing tak wedeni,..! “jawab bang penyok lalu meninggalkan lincak ini dengan perasaan gelisah,mengingat kios lek udin jaraknya paling dekat dengan kios si ketel.
Tetapi rasanya kok bang penyok ini terlalu mengada-ada dan berburuk sangka menurut saya,tapi ya biasalah pikiran orang itu beda -beda, biarpun si ketel ini orangnya ndablek,setidak-tidaknya ketel tahu bahwasanya Dalam berbagai ritual pesugihan terdapat bentuk kesyirikan, yaitu memalingkan salah satu ibadah kepada selain Allah. Dan itu adalah seburuk-buruknya.
Dan saya sedikit mengerti tentang si ketel ini, usaha memang lancar, dan daganganya laris.Lambene sangat luwes,sangat bakat bakul abab.Skill dagangnya sangat mumpuni,raperlu pesugihan menurut saya.
Gimana nggak laris lhawong kalau jualan harganya di bawah standar,bahkan kalau ada pembeli,tidak jarang si ketel memesankan es teh, atau minuman,rokok,kadang kalau ada pedagang bakso lewat ya sekalian di traktir,pembeli mana yang tak pekewuh kalau sudah di hipnotis kayak gini.
Berdasarkan analisis saya ( wuh koyo acara sentilan-sentilun wae) Pelanyanannya juga ramah,dan yang paling nyenengake dari si ketel ini,berani rugi.Rugi dikit nggap apa-apa yang penting mbathi sedulur prinsipnya.Meskipun kadang sesekali nggorok pembeli,dan itu sah-sah saja tergantung akad jual belinya,dan paling penting tidak saling merugikan.Dan lek ketel ini gampang akrab dengan siapa saja,kebalikan dengan bang penyok ini.
Yang tidak boleh itu ngarani atau menuduh yang belum pasti,bisa-bisa sesuatu yang kecil bisa jadi masalah yang besar hanya karena lambe turah,Nak yo ciloko tho.Kita harus pintar -pintar menyaring gosip murahan dari lambe ndlogok.
Ahh, mungkin bang penyok sedang mumet karena beberapa minggu ini dodolane sepi,padahal ya dia termasuk rajin buka paling awal dan tutup paling akhir.Beda dengan lek ketel yang buka semaunya kadang jam sebelas baru buka tapi ndilalah langsung laku dan langsung dapat duwit.
Dari situ saya sadar, mungkin ada sedikit rasa nggounduk bagi pedagang, mbuh itu dagang apa saja jika melihat daganganya sama dan ternyata tetangga lebih laris dan lebih moncer.Dan banyak kenyataan atau tidak sedang mengada-ada akan timbul prasangka yang tidak baik,bahkan muncul gosip nggo pesugihan misalnya.
Bisa saja tho,mungkin karena rasa nggounduk tadi,padahal yang namanya rejeki sudah di atur sama yang diatas katanya,mungkin bagi beberapa orang ternyata jualan seharian dan tak satupun daganganya laku memang sangat tidak nyaman, gampang emosi dan nggapleki.Tentu tidak semuanya begitu.
Njak pancen ndunyane ki isine werno-werno.Yang jelas dan perlu di ingat.Sak rekoso-rekosone uripmu dan sak nelongso-nelongsone kahananmu,tetep :
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (QS. An Nisa’: 36).
Jalur ini adalah jalur alternatif dari pleret menuju mangunan.Jalan yang kami lalui ini masih termasuk jalur yang tergolong jalur sepi, cocok untuk membuang keringat.
Pemandangan terasiring nglingseng
Untuk menuju “Hutan Pinus” melalui jalur nglingseng ini,sangat menyingkat waktu.karena tidak perlu ngalang atau memutari lewat ” Bukit_Bego atau watu goyang. ” Kami bersama rombongan kanggotan medal berangkat dari titik kumpul di kantor pos pleret,kemudian gliyak -gliyak ngontel sepeda lurus ke arah selatan mentok lalu kekiri melewati jembatan segoroyoso nanti akan ketemuPer-Tigaan (dari arah yogyakarta) lalu belok kanan menuju pucung di tandai dengan adanya pasar burung dusun pucung “Desa Wukirsari, Kecamatan imogiri-bantul keselatan ada pertigaan lagi ambil lurus. Jalur ini jarang di pakai oleh kendaraan besar seperti truk, walau jalannya beraspal tapi jalannya sempit, kalau pakai mobil harus berhati-hati ketika berpapasan dan jalanya sangat nanjak dan berkelok -kelok. Dijalur ini jalannya sepi kendaraan, jadi sangat nikmat sekali untuk rute perjalanan sepeda. Hanya sepeda motor para petani yang berlalu lalang.Setelah itu Lurusaja, sampai ketemu Per-Tigaan yang di sudut kirinya terdapat “Cakruk / Gardu Ronda”.nglingseng
Lokasi Tanjakan kewer nglingseng
Lokasi jalur kewer nglingseng
Setelah itu lurus aja sampai ketemu jalan yang menanjak menuju “Dusun Nglingseng, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo”. lokasi: Tanjakan Kewer Nglingseng https://maps.app.goo.gl/epMLpCjY1wuEvDyE6
Dari jalan itu terus aja, nikmati perjalanan yang menanjakan dan pemandangan sawah teras siring dengan perbukitan yang masih hijau. Diakhir Tanjakan, nanti akan menemui Per-Empatan yang ada pos pit nglingseng.
Pos pit mbok jimah
Pos pit mbok jimah nglingseng
Untuk sampai post pit mbok jimah atau pos pit ngingseng muntuk ini kami harus melewati beberapa tanjakan, tapi yang paling panjang adalah tanjakan terakhir di dusun nglingseng. Setelah selesai tanjakan terakhir itu, sampailah kami diatas bukit. Dibukit ini terdapat dusun yang bernama muntuk, di dusun ini juga hutan pinus berada.
Hutan pinus mangunan
Pinus asri
Lokasi Pos Pit Nglingseng sendiri di antara hutan Pinus Mangunan dengan puncak-becici. Ini artinya masih ada tanjakan sedikit curam dari tempatku berhenti. Tanjakan ini berakhir ketika sudah sampai di hutan pinus. Setelahnya, jalanan menurun.
Dari angkringan mbok jimah itu nanti belok Kanan untuk menuju Hutan Pinus. Setelah belok kanan dari Perempatan itu, lurus aja kira-kira 1 Kilometer lagi sampai di Hutan Pinus. Nikmatilah Pemandangan Hutan Pinus asri.
Gapura selamat datang mangunan
Rute Perjalanan
Star: sekitar-pleret-bantul depan kelurahan pleret – kantor pos pleret – segoroyoso – Desa Wukirsari (Imogiri)-pos pit nglingseng – Desa Muntuk (Dlingo) – Hutan Pinus.
Pulang: Hutan Pinus – Desa Muntuk (Dlingo) – Bukit bego (Imogiri) – Jl. Imogiri Timur – Perempatan jejeran – pasar-klitikan-Finish.
Jika ingin berolahraga atau hanya sekedar cari angin segar tanpa khawatir banyaknya kerumunan, mungkin Embung Imogiri ini bisa menjadi tempat alternatif. Waduk yang baru saja selesai dibangun ini berada di Pedukuhan Karangpulon, Kelurahan wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.
Pengunjung yang ingin datang tidak dipungut biaya hanya membayar uang parkir,itupun kalau ada yang jaga. Waduk yang dibangun membentuk gunungan wayang ini bertujuan untuk mengantisipasi bencana banjir yang kerap terjadi di Kabupaten Bantul.
Saat ini, di sekeliling Embung Imogiri sudah ada gasebo untuk pengunjung. Jadi pengunjung bisa sambil olahraga pagi,lari-lari atau sekedar jalan santai mengelilingi embung ini.Kalau sudah agak siang pengunjung bisa leyeh-leyel sambil menikmati kuliner di gasebo ini. Tidak hanya makanan, di Embung Imogiri juga terdapat wahana bermain seperti mobil-mobilan, melukis, odong-odong. Karena itu, lokasi ini cocok untuk piknik keluarga tanpa harus cemas jika anak-anak bosan.
Lari pagi ngubengi embung imogiri.
Pembangunan waduk ini merupakan bagian dari program Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan tujuan tanggap bencana banjir yang diakibatkan dari meluapnya Sungai Celeng. Waduk ini nantinya juga difungsikan sebagai salah satu wisata air yang baru.
Dengan keberadaaan waduk Embung Imogiri ini diharapkan dapat meminimalisir adanya luapan Sungai Celeng saat intensitas hujan tinggi. Lokasi waduk ini sangat terjangkau dan warga dapat dengan bebas memasuki area waduk dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) salah satunya adalah menggunakan masker saat memasuki area waduk dan tidak membuat kerumunan.