Daripada tidak menulis

Saya bertemu Sukilah pemilik usaha salon ternama ” Puspita”,ya, dia adalah teman lama.Ketika itu saya sedang leyeh – leyeh di pinggir sawah, selesai membantu mertua angkat-angkat gabah di sawah ,kebetulan rumahnya dekat sawah yang di garap mertua saya.Setelah sempat tanya – tanya tentang kabarnya, kemudian dia menyuruhku mampir,katanya sekedar reuni kecil-kecilan ,tanpa basa-basi saya langsung mengikuti Sukilah menuju rumahnya.

Sukilah sendiri yang membukakan pintu untuk saya. Ternyata ia sendirian saja di Rumah.

“Iki mas omahku saiki dadi ngeneiki maklum seng mbiyen keno gempa! .” Jelasnya dengan senyum yang menawan.

“Ehm… enggih, Mbak,” jawab saya gugup.
Ia kemudian mempersilakan saya untuk duduk di kursi.

Di ruang tamu rumah sukilah , saya serasa melayang penuh rasa tidak percaya. Bagaimana tidak, saya dulu sering duduk di ruang tamu ini, dan sekarang diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan teman baikku,bahkan bisa di bilang teman spesial.Meskipun sekarang dengan keadaan yang berbeda.Sukilah sekarang sudah jadi orang sukses.

Namanya juga teman, pertanyaannya pun tentu saja tentang kabar apa saja yang menjadi kegiatan sehari – hari.

“Kosek yo, Mas. Aku tak nelpon anakku ndisik, ben ora bingung nggoleki aku,” ujarnya pada saya yang masih dipenuhi dengan perasaan senang bercampur tidak percaya,
Ruang tamu rumah sukilah ini luas masih seperti dulu hanya sekarang pintunya menghadap barat.

Saya sempat terdiam beberapa saat, masih tak percaya seorang Sukilah ada di depan mata saya. Namun perlahan, saya mulai bisa menguasai keadaan dan mulai terbiasa.

Begitu selesai dengan hpnya , Sukilah kemudian duduk di kursi sofa berwarna krem dengan posisi duduk yang sangat anggun. Cara duduknya benar-benar merepresentasikan cara duduk seorang kembang desa kelas atas. 

Ia memakai blazer putih dengan bawahan berwarna hijau ngejreng seperti warna rompi pak ogah. Blazernya yang putih membuat tubuhnya yang kuning langsat tampak semakin eksotis. Bongkahan pahanya yang sehat dan tampak begitu terawat menyembul dengan sangat provokatif, membuat dada saya beberapa kali berdesir kencang.

Sembari saya menyulut rokokku yang tinggal tiga batang, ia tak henti-hentinya menyunggingkan senyum sembari sesekali menanyakan pertanyaan-pertanyaan remeh pada saya.

“Wis suwe, Mas, dadi petani?” tanyanya.

Saya sedikit kaget mendapatkan pertanyaan mendadak tersebut, saya tak menyangka bahwa ia ternyata punya inisiatif untuk bertanya lebih dahulu. Mungkin ia paham dengan kegugupan saya, sehingga ia mengambil menuver cantik untuk memecah kebekuan dan kegugupan saya.

“Ehm… eh, lumayan lah, Mbak. Yo wis rong tahun iki…” jawab saya dengan agak terbata. “Maune aku kerjo serabutan, kadang dadi bakul, kadang dadi buruh, kadang yo dadi petani lepas.”

“Yo teko ditlateni wae, Mas. Sing penting ono hasile…”

“Nggih, Mbak Sukilah …” jawab saya

“Halah, rasah nganggo mbak, teko Sukilah thok, koyo ro sopo wae lho.”

“Siap, lapan anam, Mbak Sukil… eh, Sukilah ,anu ….”

Namun, belum sempat saya menyelesaikan perkataan saya, Sukilah buru-buru memotong.

“Welha, rasah nggo grogi barang,ngomahku ora ono sopo – sopo. Teko ngobrol santai wae,” katanya. “Anggep wae lagi ngobrol koyo mbiyen, konco dhewe…”

Saya terpaksa menuruti apa saran Sukilah . Walaupun dalam hati, saya masygul juga, sebab terus terang saya ndak enak kalau ada tetangga yang tahu,saya berada di rumahnya hanya berdua. Tapi yah, mau bagaimana lagi, kalau Sukilah sudah berkehendak, saya bisa apa.Lagipula, saya juga takut ia tidak nyaman jika saya tidak menuruti perintahnya.

“Oke, jadi teko ngobrol santai wae, ya?”

“Hoo, teko ngobrol santai wae.”

Saya pun mulai mencoba memancing dengan pertanyaan seputar kehidupannya setelah di tinggal mati suaminya karena kecelakaan enam tahun yang lalu.

Sukilah sengaja memilih pulang dan tinggal di rumah lamanya daripada tinggal di rumah alm suaminya yang berada di kota Jogja .Karena mungkin di sini lebih nyaman dan mungkin bisa mengingatkan dirinya dengan masa kecilnya, menurut Sukilah rumah ini merupakan tempat yang penuh kenangan dan secara tidak langsung memengaruhi semangat hidupnya.

“Jadi ngene, Mbak…” kata saya.

“Nah, tho, dikandani ngeyel, wis tak kandani rasah nganggo ‘Mbak’ kok yo iseh dibaleni wae.”

“Oiya, lali…”

“Ngene, Sukilah ,” ujar saya. “Ah, ketoke ora pantes je nek aku ngundang sampeyan tanpo ‘Mbak’, aku ngundange ‘Mbak Sukilah ’ wae yo, ben luwes…”

“Yo wis, sakkarepkmu.”

“Ngene, Mbak.Sampeyan kan milih manggon neng ndeso. Nah, iso dicritakke ora ngopo sampeyan milih ndeso ? Padahal neng Jogja kan rame, akeh tempat sing sip nek ngge mbukak salon, po nggon liyane ngono.”

Sukilah tampak memasang pandangan menerawang. Ingatannya seakan melayang jauh ke belakang.

Ia bercerita bahwa di rumahnya itulah pertama kalinya Sukilah membuka usaha salon dan rias pengantin.Dan sekarang menjadikan dia terkenal.

“Aku isih cilik pas kuwi, Mas. Ketoke lulus SMK.Wes ora tau hubungan ro kowe, Wektu kuwi aku diajak budeku sing ndilalah ndue usaha salon kecantikan ,” kenangnya. “Saking semangate , Budeku kuwi ngasi adol sapi nggo nyilihi modal mbukakke salon nggo aku.”

Saya tertawa kecil. 

Sukilah mengubah posisi duduknya. Kali ini dengan kaki menyilang yang membuat pahanya tampak semakin provokatif saja.

“Aku maune ora patio mudeng piye kuwi carane ngadepi wong ngerias penganten, tapi aku teko gelem wae diajak budeku. Tekan kono, aku akhire ngerti, jebul macak utowo ngrias pengantin ki nyenengke, isoh ngucel-ucel sirahe wong liyo tapi sing di mek-mek ora nesu” kenangnya.

“Trus sampeyan betah melu budhemu?”

“Hoo… Pas aku melu deknen nyalon kuwi, jan, aku langsung yakin nek aku kudu iso koyo budke ku siji iki,” jelas Sukilah . “Penghasilane kuwi lho, delit we meso, pokoke nyenengke pooool.” 

“Nek budhemu. ngono pancen lejen, jaminan mutu,” kata saya.

“Aku iseh kelingan biyen pas melu budheku ngrias anake bupatine, tanggapke ndangdut juk aku melu nyanyi, wah, pokoke mulyane pwooool.”

Sukilah kemudian berdiri dan mencoba menirukan bagaimana Sukilah menyanyikan lagu yang bercerita tentang acara tersebut .

” Secawan madu…. “
” Yang kau berikan….

Usai memberikan sedikit aksi menyanyi tersebut, Sukilah kemudian duduk kembali.

“Terusan lirik’e aku lali, hehehe,” katanya sambil meringis geli.

Saya ikut geli.

“Wis lah, pokoke nyenengke.lan ngguyokke” kata dia. “Pas Aku kuwi nyanyi, aku ndelok tamune podo melu nyanyi kabeh. Pokoke suangar lah, Mas,” lanjutnya.

“Wah, aku njuk melu mbayangke rasane nonton konser ndangdut neng Thr, Mbak”

“Pokoke meriah, Mas. Gara-gara kuwi aku akhire pengin dadi koyo Mbak penyanyi ndanggdut. Aku njuk nduwe cita-cita dadi penyanyi. Mangkane, nek aku saiki kadang dadi penyanyi koyo saiki, kuwi salah sijine mergo biyen aku melu budheku neng acara mantenan turut ndeso, tapi nek neng kuto ora patio payu aku mas.”

“Oalah, jadi kuwi alesane sampeyan mekso milih panggon neng ndeso ?”

“Hoo, Mas!”

Saya kemudian bertanya tentang masa kecil Sukilah di desanya. Sukilah memang menghabiskan masa kecil sampai masa remajanya di desa,bahkan saya sempat juga menjadi bagian masa remajanya waktu saya masih SMA. Sebelum akhirnya ia hijrah ke kota Jogja, untuk mengejar mimpinya sebagai penyanyi ndanggdut.

Masa kecil Sukilah di Desa boleh dibilang penuh dengan kisah keprihatinan.

Ayahnya kala itu bekerja sebagai buruh citak batu bata dengan penghasilan yang tak menentu. Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai penjual sayur keliling.

Berada dalam keadaan serba kekurangan, Sukilah terpaksa harus ikut bekerja sepulang sekolah demi membantu keluarganya. Berbagai pekerjaan sambilan ia jalani demi mendapatkan uang untuk biaya makan dan tambahan uang sekolahnya.

“Mergo kahanan aku kepekso nyambut gawe nggo keluargaku, Mas,” ujarnya lirih. “Kadang aku melu ider sayur, kadang aku dadi tukang umbah-umbah,” lanjutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Mendengar jawabannya itu, timbul simpati dan rasa kekaguman saya pada sosok kembang desa yang satu ini. Betapa dia memulai kesuksesannya dengan penuh kerja keras. Saya memang tahu tentang kisah pilu kehidupan Sukilah semasa remaja karena dia sering jalan sama saya yang juga kurang lebih bernasib sama, namun saya tak menyangka jika kisahnya semenyedihkan itu.

Kendati hidup dalam kesusahan, Sukilah tak lantas larut dalam keadaan. Sukilah justru makin semangat mengejar impiannya menjadi seorang pengusaha salon kecantikan sekaligus penyanyi ndanggdut.

“Pokoke dangdut dan salon harga mati!” kata Sukilah bersemangat. “Ora dangdut , ora!”

Kehidupan masa lalunya yang susah itu nyatanya justru ikut menjadi perantara berkah dan kejayaan bagi kariernya. Mental hidup susahnya yang sudah teruji saat kecil membuat Sukilah tidak lantas menjadi pribadi yang boros dan sombong setelah merengkuh kesuksesan.

Selain itu, nama salon usahanya karena terinspirasi oleh kehidupan masa susah Sukilah . Salah satu salon yang paling terkenal di daerahku tentu saja adalah salon yang bernama “Puspita”

Salon“Puspita” yang hampir semua orang, setidaknya di daerahku , itu masuk dalam deretan salon top dan teratas di daerahku.

Saya mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut tentang usaha salon itu, dan Sukilah memceritakan satu rahasia besar tentang “Puspita”.

“Nama ‘Puspita’ iki terinspirasi seko uripku rikolo jaman sengsoro, Mas,” terangnya dengan mata yang semakin basah.

Sukilah sempat terdiam cukup lama ketika saya menanyakan hal itu lebih jauh.

“Jaman biyen, selain melu mburuh dadi tukang sisik batu bata, aku yo kerep nyambi dadi tukang nggolek keong sawah njuk di gawe sate keong,Mas,” ujarnya.

Kali ini, pertahanan air matanya tak bisa ditahan lagi. Air matanya jebol. Maskaranya mulai luntur tak beraturan. Saya reflek mengambil tissu yang berada di meja dan memberikannya pada Sukilah .

Ia kemudian menghapus air matanya dengan tissu bermerek Alfamidi yang baru saja saya sodorkan padanya.

“Aku nek kelingan jaman semono mesti trenyuh, Mas,” Katanya terisak. “Bali sekolah, begitu udan, aku langsung nyangking payung njuk budhal sawah, nutupi boto nggo getepe jaman semono urung umsum plastik koyo saiki.”

“Wah, uripe sampeyan kebak perjuangan yo, Mbak?”

“Iyo. Bocah liyane udan-udanan nggolek seneng, aku udan-udanan nggolek pangan, mas…”

“Opo ora wedi keno masuk angin?”

“Halah, aku wis ra sempet mikir masuk angin, aku mikire piye carane nggolek duit. Ora kudanan ora mangan.”

Menurut Sukilah , Nama Puspita, menceritakan tentang seorang sahabatnya yang ikut membantunya menutup batu bata lalu tersambar petir. Demi kesembuhannya, sang sahabat terpaksa harus menjalani terapi di sebuah klinik pengobatan alternatif.

“Jenenge Puspita, deknen tonggo deso, bocahe mesakke, podo mlarate koyo keluargaku,” tuturnya. “Saiki bocahe wis rabi, tangan kiwone kudu diamputasi.”

Sukilah kemudian beranjak dari kursinya, berjalan menuju jendela, ia memandangi pemandangan hamparan sawah dengan tatapan yang kosong. 

Saya tak berani menganggunya. Ia terdiam cukup lama. 

Ia lantas kembali ke kursi dengan air mata yang sudah semakin menggenang.

“Dingapuro ya, Mas…” ujarnya dengan suara yang parau karena ia tak bisa menangis tangis. “Aku kegowo perasaan.”

“Iyo, rapopo, Mbak. Aku ngerti perasaane sampeyan.”

Kondisi tersebut membuat saya memutuskan untuk menghentikan sesi tanya jawab pada temanku.Saya merasa tak bisa menanyakan lebih banyak pertanyaan sebab Sukilah tampak sangat emosional dan sentimentil mengenang masa lalunya. Kondisi Sukilah sedang tak stabil.

“Nggih mpun, Mbak Sukilah ,ngobrole teruske kapan-kapan wae, dilanjut lewat wa, nek saiki ketoke ora kondusif,” terang saya.

“Iyo, Mas… pisan meneh, aku njaluk ngapuro, yo”

“Santai, Mbak…”

Agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan, sembari bersiap-siap pulang , saya pun mencoba mengalihkan pembicaraan seputar anak-anaknya yang sudah menganjak remaja.

Sukilah kembali terdiam larut akan kenangan masa lalunya.

“Bali sekolah aku yo kerep dodolan kacang godok neng terminal Giwangan, Mas,” ujar Sukilah sembari kembali menangis meraung-raung. Saya jadi kelimpungan sendiri. Untung rokok saya sudah habis, sehingga saya bisa menenangkan Sukilah sembari menepuk pundaknya.

“Rasah terlalu dieling-eling, Mbak. Kuwi kan wis dadi masa lalu.”

Ia hanya terdiam dan terisak.

Sambil beranjak untuk keluar dari rumahnya, saya mencoba memberikan sebuah pertanyaan terakhir terkait dengan penolakannya kepadaku dulu.

“Btw, Mbak Sukilah,masih ingat nggak saya dulu pernah ….”

“Kabeh ikhlas tak lakoni, sing penting halal, Mas” ujarnya setengah berbisik sembari menyeka air matanya yang masih mengalir.

Klik lainnya 👇


jejaksinoer.

Ndopok ra cetho

Ndok ceplok

Forza Milan , Vinci Per Noi.

“Bajingan… roma bener-bener bajingan!” maki Gembur sambil membanting koran lawas di atas meja di teras gedung madrasah

“Eee, e, e… kamu ada apa kok pagi- pagi begini sudah berani mbajingan-mbajinganke roma ?” tanya lek Ridi yang juga sedang berada di halaman masjid dan lagi wedangan.

“Ini lho Lek Rid, Roma ini kok kelihatanya ndak becus bal-balan
,padahal musuhnya hanya tim gurem blas ra kondang, hla kok isa-isane kalah,wis pokoke Roma bajingan lah Lek Rid! “

“Dimaklumi saja, Mbur… dimaklumi saja.”

Gembur adalah fans berat tim sepak bola dari italia, as roma, dia masih terbilang sebagai penggemar sepak bola baru, karena memang baru belakangan ini suka nonton bola. Ia adalah salah satu yang sering baca koran di papan depan masjid . Hampir setiap hari ia selalu mampir ke halaman masjid ini, mungkin karena memang ingin tahu tentang perkembangan tim kesayanganya,dan lokasinya yang tak terlalu jauh dari rumahnya.

“Tong, itu si Gembur di pesenke wedang sisan, biar adem otaknya, kalau ndak cepet-cepet dibikin adem, bisa-bisa kita ini pun nanti bakal ikut dibajingan-bajingankan!” Lek Ridi memberi instruksi kepada saya

“Siyap Lek!” jawab saya mantap sambil cak-cek pesen teh panas di warung lek nar.

“Ini Mbur, diminum, biar adem otaknya,” kata saya sambil meletakkan segelas teh panas di atas meja di hadapan Gembur, bersebelahan dengan koran yang tadi dibantingnya. Saya sempat melirik sebentar, di koran tersebut, tertulis headline yang cukup provokatif “ As roma keok dibantai 5-1 oleh tim kelas bawah”

“Gimana, Tong, menurutmu?” tanya Gembur.

“Gimana apanya?”

“Lha itu, As roma dibantai, “

“Wah, aku ndak tahu je Mbur, lha wong aku ndak terlalu mudeng dengan bal-balan balan luar negri,” jawab saya diplomatis, semata agar bisa menghindar dari perdebatan panjang dengan Gembur. Maklum, berdebat dengan Gembur soal sepak bola adalah salah satu pekerjaan yang bisa membuat saya menjadi tidak bergairah.

jejaksinoer

“Wah, kamu itu kok ya radong banget tho sama perkara penting begini, mbok rodo mengikuti perkembangan bola sedikit.
aku yang ki maune yo radong ,sama urusan-urusan sepak bola luar begini kok! Gara-gara dulu menang taruhan saya suka as Roma,ha kok Saiki malahan.”

“Hasyah, memeng Mbur, daripada mikir bal-balan, mending sibuk golek dagangan, lebih nyata khasiatnya, dan lebih nyata juga hasilnya.”

“Oalah,golek duwit wae sing di pikir. “

Saya cuek saja dan lekas menghabiskan teh yang kupesan tadi.

“Lek , kok si Gembur bisa sebegitunya ya? jiwa itu lho, mburap-mburap, padahal suka Roma belum lama” tanya saya sama lek Asridi, “Mangkel yo mangkel, tapi kan yo ndak pakai mbajingan-mbajinganke begitu,”

“Maklum Tong, Romania anyaran ,kene i wes ket jaman baholak je seneng Roma!” jawab Asridi pelan, saya cuma terkekeh sambil menghisap rokokku dalam-dalam.

” Ramasyok nek kowe Rid ! “gerutu gembur.Kali ini Gembur tidak manggil Lek,saking getingnya

” Welha…. Diam -diam gini aku ki yo Roma-nia sejati, ket kowe do isek indil-indil, tapi yo ora model ngono, mbajeng-bajengke idolane. sak penake udele dewe. ” Asridi mulai menaikan tensi bicaranya setelah mendengar cemoohan gembur.mungkin dia merasa lebih senior dalam urusan mengenal Roma.

” Haessmbuuh lek, “jawab Gembur pada jumali, lalu beberapa saat diam, setelah sempat sedikit saling tegang.

Sebagai orang yang juga selalu mengklaim dirinya sebagai Romania dan ndilalah juga ketemu seorang pendukung roma, Tentu perasaan Asridi bergejolak hebat begitu mendengar apa kata Gembur itu. Wajahnya jadi nampak sangat sangat kecut.

Sesama pendukung Roma kok ndak akur, batin saya. Tapi untunglah, tak berselang lama, Gembur segera bisa menguasai suasana, dan tampaknya, ia sudah punya pemecahan yang diplomatis. Hal ini terlihat dari raut wajahnya yang berangsur mulai terlihat normal dan tidak lagi njelehi.

“Tong, pamit dulu, nuwun di traktir wedang!” teriak Gembur agak mengagetkan

Asridi bangkit dari duduk manis-nya, “La kok malah minggat , mau kemana?” tanya Asridi

“Mau pulang, mau tidur, biar nanti malem bisa melek nonton idola, wong nanti malem, roma main lawan milan,”

Bagai disambar petir, cak ridi langsung mak jenggirat, kaget, kena touche yang kelihatannya sangat temapuk dari Gembur.

” Lho, ket mau ki sing tok omonke bal-balan to,weh tak kiro ngomongke idolaku sang raja ndangdut Roma irama je.Sory “Asridi menjelaskan sambil tersipu malu.

” Wooo…lha bajingkrek tenan,Mosok yo ngomongke Preman Dangdut, iiih, najis..Lek.! “jawab Gembur sengak.

Saya jadi kasihan melihat lek Asridi. Wajahnya itu lho, wagu-wagu asu.

“Ya wes, nggo neruske le padu sesok, kamu ndukung milan! terus nanti taruhan” kata Gembur mantap. “Atau gimana ya baiknya lek ? barangkali ada saran?” lanjut Gembur.

“La yo embuh, ra urusan, wong aku pendukung Roma ndangdut..je.!” kata Asridi terkekeh. Saya ikut terkekeh, dan Gembur pun pasang muka mecucu.

NB: Tulisan ini murni Fiksi, kalau ndilalah ada kesamaan nama atau tempat, itu memang disengaja.Wes tak aku wae lek sing ndukung milan, FORZA MILAN, vinci per noi.

Shock satria muda

Sepeda malam

jejaksinoer.

Katok mamboo ,cah ra cetho

Ndok ceplok

Ndok ceplok

Katok mamboo

Saat itu, saya meminta Genjo menemani saya ke toko pakaian untuk membeli celana. Sebenarnya ini adalah manuver yang riskan, karena saya tahu kebiasaan genjo yang tidak sabaran dan  sering seenaknya menggoda mbak-mbak penjaga toko dengan godaan yang memuakkan dan sering kali membuat saya terpaksa ikut menanggung malu.Setelah berulang kali saya mencoba celana dan tidak ada ukuran yang pas lalu mbak penjaga toko menghampiri kami berdua.

Dan benar saja, di sana, mbak-mbak penjaga toko itu mati kutu kena goda sama si Genjo.
” Saya Carikan ukuran yang lain ya mas,saya cek dulu ,barangkali ada yang pas” kata si mbak penjaga toko, 

” Tadi yang itu sudah pas mbak, tapi   mendadak sesak” Jawab Genjo menyerobot jatah pertanyaan yang sebenarnya diajukan untuk saya.

“Memangnya kenapa kok sekarang jadi Ndak pas , mas?” tanya mbak penjaga toko

“Nyawang Kowe terus Manuke ngadek , mbak ! otomatis dadi sesak ” Jawab Genjo sambil meringis cuek tanpa merasa risih sedikitpun.

Si mbak penjaga toko cuma tersenyum kecut, wajahnya jadi sangat tidak enak, padahal sebelumnya, manisnya begitu merekah. Sedangkan saya cuma bisa mbatin: “Asuu kowe njo, nggawe isin aku wae”

Tapi tak apa, rasa malu saya akan tingkah polah Genjo di hadapan mbak penjaga toko tadi sore akhirnya terbayar lunas dengan hiburan percakapan absurd antara Genjo dengan Cempluk, sesaat setelah pulang dari toko di tempat biasa kami ndopok di pinggir sungai.

Dan begini kira-kira dialognya:

Genjo : Pluk, mau pas aku nang toko ro plentong, aku weruh katok mamboo murah banget, mung seket ewu, padahal nek nang pasar iso ngasi  sangang puluh ewu lho..

Cempluk : ah, mosok tho? murah tenan

Genjo : ha tenan…

Cempluk : paling kuwi katok mamboo seken…

Di titik ini, saya sudah tak bisa menahan tawa.Mosok toko ngedep katok seken Hingga kemudian, mereka berdua kembali melanjutkan dialog mereka

Genjo: aku janjane pengin tuku, ha tapi katokku isih do waras je, hurung butuh katok anyar sing apik

Cempluk: haiyo rasah njo, wong ra tau dolan ro cewek  kok, ra perlu katok sing apik-apik, man-eman

Sampai disini, tawa saya pecah sepecah-pecahnya, dan ingin sekali berteriak asuuuu sekencang-kencangnya.

Koyo Karo sopo wae.

Tombo gabut ndaa…!

Ndok ceplok

Jaman Semono,biasa cah enom


Sore itu, Saya, Gembul , dan Dargombez asyik bercengkerama sambil mabuk, saya ndak ikut mabuknya karena sudah berjanji tidak akan mabuk lagi,biasalah karena ada satu atau dua hal dan mereka memahami ,di buk perempatan lor ndeso jalan dekat rumah saya. Yah, hitung-hitung menghabiskan sore hari sambil menunggu kawan-kawan lain pulang kerja.

Sambil ngobrol, Sesekali, Gembul dan Dargombez bergantian minum lapen ( ciu) dari botol aqua ukuran sedang yang sudah dihilangkan labelnya. Maklum, karena hanya dua orang, mabuknya pun tidak dibandari atau tidak dituang di gelas sloki dan diputar sesuai giliran minum , melainkan ditenggak langsung dari botolnya secara bergantian.

“Mbez, lihat deh,” kataku pada Dargombez sembari menunjukkan Rini yang sedang melintas pojok kampung tempat kami bertiga nongkrong, “Giginya pakai behel,keren ,ya.”

Dargombez hanya melirik sebentar, ia memang sedang sibuk dengan botol dan kacang kulit sebagai tambulnya, ia tidak lagi bersemangat membicarakanya,mungkin saja karena habis putus , ia hanya menimpali cuek dengan sedikit mengejek, ” Dasar cah gumunan. Lihat cewek segitu aja gumun. “

Mendapat tanggapan begitu, tentu saja wajahku kecut.

“Aku i kalau ketemu cewek malah bingung,soalnya….” kata Dargombez yang kemudian langsung saya potong sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Dasar cah bingungan.lihat cewek segitu aja bingung.”Balasku dengan nada senyolot mungkin.

Kali ini, giliran tampang Dargombez yang berubah kecut, dan kekecutanya tentu saja melebihi kekecutan tampang saya tadi,dia ganteng dewe sak ndeso mirip Bertrand Antolin,kalau dilihat dengan sedotan es.Dan saya tak peduli. Ia harus mendapatkan pelajaran yang setimpal. seperti dendam, kekonyolan harus di balas tuntas.

“Untu wis apik-apik ,kok seh dikawat,warnane biru sisan,malah koyo pager kantor PLN !,”celoteh Antoro yang biasa di panggil Gembul,karena badannya mirip tandon tampungan air .

“Haiyo,Jan koyo kurang gawean,ha nek Kowe Tong,minat Ra pasang kawat untu koyo mono? Mbok menowo mrongosmu Keling sithik – sithik.” tanya Dargombez pada saya.

“Ah,ra minat aku,wis ben ngene wae,rasah dikawat-kawat barang,teko Narimo ing pandum,rasah aneh-aneh,mrongos yo mrongos.” jawab saya agak bangga dengan kemrongosan saya.

Sesaat, saya jadi takabur, saya merasa menjadi orang yang paling bersyukur di dunia.

“Bener Tong ,ra usah aneh-aneh pasang kawat untu,untumu ki kan wis dadi ciri khas,rasah diubah-ubah.yo mbok menowo suk Kowe mati Nang ndalan lak polisine njuk gampang le ngidentifikasi ,Ra perlu main otopsi,cukup ndelok Cocotmu ! “kata Dargombez sengak.

“Ndiasmu mlocot Kuwi su !” umpat saya. Dan kami bertiga pun tertawa terbahak-bahak.

“Sek,tak Nang warung dilit !” kata saya seraya bangkit dari duduk dan melangkah ke warung yang lokasinya hanya beberapa langkah dari tempat kami ngobrol.

jejaksinoer

“Tong ,jarum super loro Tong !” kata Gembul sambil memicingkan sebelah matanya dengan sangat genit, jarum super merujuk pada salah satu varian rokok.

“Ha duite endi ? ” tanya saya.

“Hayo Melu Kowe tho,ngono kok Yo seh Takon lho,ha nek aku nduwe duwit Ra bakal aku nembung ro Kowe!”.

“Hasyuu,wegah,duitku meh entek,nek Ra nduwe duit yo wis,rasah ngudud !.”

“Lha Wak dhewe Ki nek omong-omongan ngene trus ra Ono rokok’e ki Jan njuk koyo wong padu je !.”

“Ha ha ha..!.”saya tertawa kecil, saya sudah hafal, ini siasat basa-basi Gembul kalau minta dibelikan rokok, basa-basi yang teramat garing kerontang, namun sering sukses membuat saya luluh. Saya pun melangkah ke warung dan membelikan dua batang rokok jarum super sesuai pesanan Gembul.

“Nyoh !”sambil ku lemparkan dua batang rokok pesanan Gembul . “Le mbayar sesuk yo ra popo ! “, kata saya menggoda Gembul. Yang digoda hanya nyengir nglegani.

Gembul pun langsung meraih satu batang rokoknya dan langsung menyalakannya.

Belum habis seperempat batang, tiba-tiba muncul mas Arip dengan mengendarai motor Astrea Grand kesayangannya. Mas Arip adalah seorang pegawai negeri bekerja di pasar yang ngontrak di dekat rumah Dargombez .

Mas Arip berhenti di dekat tempat Saya, Gembul , dan Dargombez ngobrol

“Rokok Mbul ?”, kata Mas Arip yang lebih populer dengan panggilan mbah Surep menawari Gembul rokok.

“Wah,rasah mas,matursuwun,Ki wis nduwe rokok kok !”, kata Gembul sambil menujukkan rokoknya yang masih belum habis, mencoba menolak dengan halus pemberian rokok dari Mas Arip.

“Halah,Iki,..teko jupuk wae,turahan kok !”,, kata mas Arip memaksa sambil mengulungkan sebungkus rokok Dji Sam Soe kepada Gembul. “Jupuk kabeh wae !”, tambahnya.

Gembul rikuh, dan dengan agak sungkan, tapi mau bagaimana lagi, ia pun kemudian mengambil sebungkus rokok yang ditawarkan oleh Mas Arip. Saya tahu, dalam hati, sebenarnya Gembul girang bukan main karena diberi rokok oleh Mas Arip ini. Hanya mungkin, Gembul masih punya gengsi yang agak mumpuni.

“Matursuwun lho buoos, matursuwun !”

“Yo,koyo Karo sopo wae lho,” kata mas Arip singkat sambil berlalu.

Begitu dilihatnya mas Arip sudah cukup jauh dan dirasa cukup aman, Gembul langsung memeriksa bungkusan rokok yang ada di tangannya, dilihatnya dengan seksama. “Wah,Jan lumayan tenan,isine seh akeh,mung gek kelong papat ! .”

“Gayamu,Mbul LLJB.”

“Opo kuwi ?.”

“Lagu lama judul baru.”

“Oalah,Jan rejekine wong mabuk ki ono wae,Gusti Alloh ki cen apikan,wong mabukan we seh dikei rejeki rokok ,isine meh sak bungkus sisan !”Kata Gembul.

Saya tercekat dengan kalimat Gembul, kali ini saya merasa menjadi orang yang paling tidak bersyukur di dunia.Dargombez yang sedang melamun sempat tergagap – gagap saat saya bilang :

“Kae si gigi kawat liwat meneh,kejar kono mbez.”

“Hees…cerewet wae,Moh Ndak koyo Gembul,”Katanya”Mosok meh ngepek Tonggo,Ra kreatif ! Daya jelajahe kurang no, minimal luar kota tho Yo !!” jawab Dargombez, nampak dia sangat kesal dengan Rini, gadis yang juga masih satu rt dengannya.

“Ha ha ha… bajingkrek tenan kowe Mbez.” Saya tertawa lepas sambil menunjuk-nunjukan jari ke arah Gembul yang mendadak pucat.Dia tadi yang ngajak minum karena sedang galau, pacarnya yang kebetulan juga tetangga di lamar Laki – laki lain.

“Wo lha Assuuu….!” Gembul menggerutu

Saya dan Dargombez tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Gembul yang jarang mengumpat ini .Lalu dia berdiri sembari membuang potongan ranting pohon yang baru saja buat nggambar daun waru dan tanda petir di tengahnya, mabuk kok sempat – sempatnya ngurek – ngurek tanah,sempat ku baca tadi ,kalau tidak salah tulisan ailofeyou….anih-anih saja Gembul ini.

“Piss Mbul,sory bercanda.wes pokoke aku bocahmu,tos.” Kata Dargombez dengan gaya wong mabuk, padahal baru minum dua cegukan,dan sudah hampir menghabiskan satu kilo kacang kulit,malah lebih mirip wong lomba ‘ngonceki kacang’.

“Hla ,kamu Tong ,masih mengejar dia?.” tanya Gembul pada saya dengan logat bahasa Indonesia, sambil menghisap rokoknya dalam – dalam.

“Males,aku mau fokus mengejar karir saja.” jawab saya seadanya.

“WHOHAHAHA…..” kini giliran mereka berdua yang kompak tertawa durjana.

“Karir anaknya pak kurir ya?.”Dargombez nampak senang bisa membalas ledekan pada saya.

“Di rewangi leren ngombe,ngalor ngidol wong loro,jebul tetep mung dianggep konco.” Gembul menimpali dengan kata-kata mutiara,seperti membicarakan dirinya sendiri

“Asyuuuuuu…asu….Jian,…bulno Wak Dewe wong telu kabeh nasipe Podo”

“Podo le ngopo ?”

“Podo-podo le ra sido kasil pek nggo” ( ngepek bojo Tonggo )

“Wes ,sok golek bojo wong njobo ndeso Tong….Gentho kok rimih.”

“Yowis kene,aku tak melu ngombe wae,wis direwangi sue ora ngombe ,yo ra urung ming di anggep konco.”

“Berarti kuwi di tolak hudu mergo mabukmu,tapi mergo mrongosmu.Huakaakaa….”

Di sore yang melowdramatis ini, akhirnya aku mabuk-mabukan lagi dan bisa tertawa riang lagi.sleketep.Genk protolan tahun 2003

Tahun 2020 …. Dargombez dan Gembul tercatat sebagai deretan orang terkaya yang ada di foto ini dan di kampung kami.

“Wallahu a’lam bishawab.

Wisata kuliner Jogja.Bakmi Mbah moPos BerikutnyaKatok mamboo

Wisata kuliner Jogja.Bakmi Mbah mo

Menulislah ,suatu saat tulisanmu akan di baca orang entah 10 atau 100 tahun yang akan datang.

Shock holigans satria muda

Ndok ceplok

Shock satria muda

Stadion benteng Tangerang

“Wah, wasite disogok kuwi!”, teriak salah satu Paser bumi yang kemudian disusul dengan sahutan dan sumpah serapah oleh anggota Paser bumi  lainnya.

Seakan tak terima, salah seorang benteng viola pun menjawab dengan teriakan ketus, “Ha pancen kok, wong wasit ro pemaine we larang wasite je, meh ngopo kowe?”


Jebul wong Tangerang lanyah boso jowo.
Sejurus kemudian, adu caci pun terjadi, dan bisa ditebak, hanya dalam hitungan menit, adu caci kemudian melebar menjadi aksi yang lebih brutal, saling lempar botol antara viola dan Paser bumi pun tak terhindarkan. 

Tensi semakin panas saat para supporter meneriakkan serapah: “Degradasi… Degradasi… degradasi…!!!”.

Menit 82, Pemain Persiba Gonzales menyarangkan gol cantik ke gawang persita. Kedudukan berubah menjadi 1-1. Gol ini semakin memanaskan tensi.

Hasil yang tak terlalu buruk bagi kedua tim ini nyatanya tak menghindarkan kerusuhan antar kedua supporter yang sudah terjadi beberapa puluh menit sebelumnya. Kerusuhan akhirnya berlanjut hingga di luar stadion. Panpel tak mampu berbuat banyak. Jika di dalam stadion aksi rusuh antar dua kubu supporter hanya saling lembar botol, maka kali ini, di luar stadion, objek yang dilempar adalah batu. 

Kedua kelompok supporter saling melemparkan batu dari jarak yang cukup dekat, sekitar 20-30 meter. Beberapa supporter dari kedua kubu nampak terluka karena terkena lemparan batu. Aksi tawur berlangsung selama kurang lebih setengah jam.

Tak dinyana, Kawan Saya Solopok tampil sebagai salah satu ujung tombak Paserbumi, ia maju dan berada dalam barisan terdepan Paser bumi yang meladeni lemparan-lemparan batu dari Benteng viola. Tanpa rasa takut (mungkin karena pengaruh ciu), ia maju ke depan sambil melempari barisan suporter viola dengan beberapa buah batu. 

“Ojo kemajon su, kowe ki ra nggo helm, keno watu bocor ndasmu”, kata kemat kawan saya mencoba memperingatkan Solopok.

“Mati-urip ki nang tangane Gusti Alloh, ora nang tangane suporter su!”, teriak Solopok singkat sambil kembali melemparkan sisa-sisa batu yang masih ada di tangannya.

Saya nyengir, antara prihatin dan kagum. Mungkin ini yang dinamakan Tawakal Kaum Gentho.

Sepatumu tok buang ngendi mat,piss aq bocahmu.

Kulon nuwun Tangerang tahun 2007.

jejaksinoer.

Status lucu di bokong truk

Ndok ceplok

Tulisan Bokong Truk.

Status lucu di bokong truk.

Menurut saya tulisan di bokong truk adalah cara melawak sekaligus cara menyampaikan pesan yang statusnya aktif.Dengan kata-kata paling sederhana pun, asal ia tertempel di bokongnya, maka kata-kata itu akan menjadi punch luar biasa jenaka.misalnya:

” LALI RUPANE, ELING UKURANE. “
” NEK RASABAR, MABURO. “
” STEL KENDO. “
” NEW KILL COME BILL. “
” BMW, body mengalahkan wajah. “
” mencari nafkah demi desah. “
” Tak tunggu rondomu.”

foto bokong truk : lokasi klitikan jejeran

Dan dari sekian banyak tulisan bokong truk, ada satu punch yang sangat sangat saya ingat karena saking dalam maknanya menurut saya :

“DI PIKER KARO MLAKU. “

Kata-kata itu mengingatkan suatu kenangan yang amat mendalam dalam perjalanan hidup saya.Saya dulu pernah nggresek cari rosokan atau istilahe : adang -adang, masih pakai sepeda jengki keliling ke beberapa tempat pengepul rongsokan,dari penjuru Bantul bahkan sampai daerah Sleman.

Teringat awal-awal pengalaman kerja yang seneng tur pait,semua ini terjadi pada suatu pagi yang hujan.Saya berteduh di emperan toko,sudah jauh ngontel naik sepeda jengki tanpa slebor (yang tentunya air nyemprot ke seluruh badan kalau kena genangan air ) sempat mrebesmili karena beberapa hari tak satu pun dapat dagangan yang menguntungkan, atau paribasane zonk.Saya nggak tahu mau kerja apalagi selain cari barang rosok.Padahal cita-cita saya tidak terlalu muluk-muluk waktu itu,iso nyandang lan mangan.

Orang lain mana mungkin tau,ada seorang bocah seumur jagung jadi tukang rosok,ngelih dan lapar yang sedang berteduh,sedang gelisah memikirkan dagangan yang kemarin- kemarin ” ngendok ” alias tidak laku,tapi yowes lah,namanya juga lagi proses belajar,geblondrok atau rugi itu hal yang biasa,mboh piye carane,poko’e di piker karo mlaku.Harapanku cuma satu waktu itu : hujan segera reda dan aku bisa kembali pulang,akan tetapi hujan makin deras,bahkan sampai sore.

Kondisi yang sangat berbeda dengan teman seumuran saya kebanyakan mereka bisa melanjutkan sekolahnya ( dan serba ada,)liane dolan-dolan plesiran saya sibuk cari makan.Enak sekali mereka, tinggal minta orang tua,(Kurasa menangisku itu juga karena di hari-hari sebelumnya sudah menahan kejengkelan dan merasakan sebegitu rekosonya golek rosokan, sehingga hari itu mungkin waktu yang tepat melampiaskan semuanya dengan cara menangis, biar lega).

Tak ada sepeser uang pun yang kupegang. besok aku harus mengembalikan uang dari pinjaman tetangga,biasalah,sistemnya pinjam modal dulu nanti kalau dapat dagangan harus setor ke juragane dan harus rela kalau misalnya dimarahi,karena ndak dapat dagangan yang mletik atau bagus,dan otomatis tidak bisa nyicil hutang,enenge ming lemes.Pusing entah kemana habisnya uang,kiro – kiro piye suk le nyaur,mau utang pada siapa lagi?.Maklum saya masih pemula di dunia pergresekan/rosok modal ya cuma nekad.Kadang hidup itu perlu sedikit nekad.Urip ki kan pancen mung nunut utang ro nyarutang,prinsipku waktu itu.
 “Nek utang ki sing kendel sisan, rasah ragu-ragu, mumpung cocote isih dipercoyo!”.
Soal gimana cara nglunasi hutangnya,di piker kalo mlaku.

Kadang saya bingung, apa yang ia lakukan ini masuk dalam kategori goblok, atau masuk dalam kategori pasrah dan tawakal.Karena saya baru lulus smp waktu itu,isek cilik iteng tur nyengungus blas tidak punya modal.

Mau menyalahkan orang tua yang tidak bisa membiayai sekolah percuma,untuk makan sehari-hari saja ndlap- ndlup,tapi mbuh ” piye carane” gimana caranya aq bisa melanjutkan sekolah. Besok, besok, besok, dan seterusnya, pikiranku adalah tentang kenapa aku tidak melanjutkan sekolah dan menjadi pencari rosok seperti ini? Bukankah lebih baik aku meneruskan sekolah agar bisa seperti teman – teman.Pokoe mbuh piye carane melanjutkan sekolah,titik.

Kalau kuingat sekarang, rasanya wagu. Untuk apa aku ngamuk mbewek hanya karena persoalan seperti itu? Lha wong kayak gitu memang kahanan, setiap orang tua pasti pingin anaknya jadi “orang”dan pintar. Tapi waktu itu aku memang benar-benar tidak tahu mau apa selain menangis,namanya juga masih remaja. yang padahal aku tahu, menangis di situ tidak akan menyelesaikan masalah.

Sing penting yakin,Mbuh piye carane,di piker Karo mlaku.


________&___________

Hari ini, ketika melihat pedagang- pedagang kecil , bakul keliling , mungkin juga pencari rosok (yang mengais rejeki untuk hidup dalam sehari ) di jalan atau dimana saja (terlebih ketika hujan turun), jadi ingat betapa susahnya cari uang apalagi dalam situasi pandemi yang entah kapan berakhir , persis dengan apa yang kualami waktu itu .” ini….soal kenangan pedih” .perjuangan orang miskin itu tidak hanya dari nol , tapi dari minus.Tetapi mereka – mereka punya keyakinan yang kuat, sing penting yakin, mboh piye carane,DI PIKER KARO MLAKU.
seperti caption yang ada di bokong truk.

Lincak bambu

Tempat wisata makam seniman imogiri Bantul

Ndok ceplok.

Jalur sepeda legendaris Makam seniman imogiri

Satu nusa, Satu bangsa, Satu bahasa kita
Tanah air, Pasti jaya, Untuk selama-lamanya
Indonesia pusaka, Indonesia tercinta
Nusa bangsa, Dan Bahasa, Kita bela bersama

Sejenak rasa melayang mengalunkan lagu lembut yang melantunkan semangat Sumpah Pemuda, dan kepercayaan akan kejayaan negeri ini.

Siapa yang tak kenal lagu ini,lagu kebangsaan indonesia yang diciptakan oleh Dr Liberty Manik.

Liberty Manik yang lahir 29 Mei 1937 dan wafat 20 Maret 1996.Di Sidikalang, Sumatera Utara, juga adalah pengajar musik di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, serta filolog (ahli bahasa) Batak kuno. Ia mendapatkan gelar doktor dengan predikat cum laude dari Universitas Berlin, Jerman, dengan disertasi tentang Musik Arab zaman Abad Pertengahan. Selain “Satu Nusa Satu Bangsa”, lagu ciptaan Liberty Manik lainnya yang juga terkenal adalah “Desaku”.Beliau di makamkan di Makam Seniman Budayawan Giri Sapto.

Iklanabout:blankLAPORKAN IKLAN INI

Berjalan melipir pinggang bukit Makam Seniman Budayawan Giri Sapto Bantul saya melihat pusara Nunu Sri Wahyuni (26 Juli 1950 – 16 Juni 2007) alumnus Dekorasi STSRI ASRI Yogyakarta 1970. Lalu ada pusara Fadjar Sidik, pelukis Alumnus ASRI Yogyakarta yang wafat 2004. Melangkah ke belakangnya lagi ada dua pusara berdampingan dengan lapis keramik hitam bertuliskan Sudarso dan Hj Aisyah Sudarso pada nisan. Sudarso disebut-sebut sebagai salah satu Bapak seni lukis modern Indonesia, dan master of realism. Sudarso yang lahir 26 Juli 1914 berguru seni lukis kepada Affandi, namun karya-karyanya baru muncul pada masa pendudukan Jepang. 

Pusara menarik lainnya di Makam Seniman Budayawan Giri Sapto Bantul adalah makam yang juga memiliki tengara Bendera Merah Putih, dan bertuliskan “Kusbini” pada nisannya, sebuah nama yang setiap anak sekolah pasti mengenalnya. Lahir di Mojokerto 10 Januari 1906, Kusbini wafat di Yogyakarta pada 30 Maret 1991, dibaringkan bersebelahan dengan isterinya yang bernama Ngadiyem.

Makam seniman dan Budayawan Giri Sapto atau masyarakat sekitar cukup menyebutnya dengan nama Makam Seniman adalah kompleks pemakaman yang diperuntukkan bagi para seniman dan budayawan Indonesia. Makam seniman ini diprakarsai oleh Dr. (HC) RM. Sapto Hoedoyo FRSA (Felloe Royal School Art), seniman serba bisa yang berasal dari Solo. 

Ada lagi prasasti di Makam Seniman Budayawan Giri Sapto Bantul yang berada di samping pusara sastrawan Kirdjomuljo, bertuliskan salah satu karya puisinya. Sastrawan Kirdjomuljo lahir pada 1 Januari 1930 dan wafat 19 Januari 2000. Ia banyak menulis karya sastra, mulai dari puisi, lakon, film serta novel. 

Puisi Rumah Bambu
Disini aku temukan kau, Disini aku temukan daku
Disini aku temukan kau, Tiada lagi ku sendiri
Pandanglah daku, Pandanglah daku
Aku bicara dengan jiwaku, Sampaikan hasratku padamu
Disini aku temukan kau, Tiada lagi kusendiri
Kirdjomuljo.Dan masih banyak lagi seniman – seniman yang terkenal lainnya yang di makamkan di makam seniman ini.seperti kusbini,ya .Lagu ciptaannya yang paling terkenal adalah “Bagimu Negeri”, yang merupakan lagu wajib semasa perjuangan, dan terus dinyanyikan di banyak kesempatan sampai detik ini. Cobalah rasakan lagi getar semangatnya: Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami 

Makam ini berada di Bukit Gajah, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Indonesia, berdampingan dengan makam Raja-raja Mataram.  Terletak kurang lebih 20 Km ke arah Selatan kota Yogyakarta. Bila ingin ke sana lokasi makam ini sangat mudah dijangkau dan dicari. Jika anda menggunakan sepeda , dari terminal Giwangan, Yogyakarta lurus saja ke Selatan tanpa belok-belok sampai mentok kantor kecamatan Imogiri. Dari kantor kecamatan Imogiri inilah anda baru belok ke kiri mengikuti jalan raya ke arah Timur sampai di terminal Imogiri, dari sini anda bisa belok ke kiri (ke Utara) naik ke bukit kurang lebih sejauh 250m. (Jika ke makam raja Mataram, dari terminal Imogiri lurus ke Timur, jaraknya kurang lebih juga 250m dari terminal Imogiri). Jika anda menggunakan kendaraan bermotor langsung tinggal tarik gas saja soalnya jalannya naik lumayan tajam . Berbeda kalau menggunakan sepeda onthel Dari sini anda bisa nuntun saja kalau kaki tidak kuat menuju ke makam.Di makam seniman kita bisa masuk ke sana gratis, tanpa harus membeli tiket masuk.   

Alamat: Bukit Gajah, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Lokasi GPS : -7.92004, 110.39206, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Bantul, Peta Wisata Bantul, Hotel di Yogyakarta.

Bersyukur

Suatu ketika pernah seorang teman chat melalui wa.dia demotivasi ia menanyakan bagaimana cara agar bisa bangkit dan termotivasi dalam hidupnya.

Dari percakapan melalui wa tersebut tersirat bahwa teman itu adalah seorang difabel yang cerdas dalam berkomunikasi.singkat kata saya persilahkan teman tersebut mendata lingkungan sekitarnya untuk menemukan orang orang yang kondisinya jauh buruk darinya.

Sejenak kemudian telah ditemukan sekian orang dan…….. yang kondisinya jauh lebih buruk darinya.dan sudah lebih dari cukup sebagai modal untuk mensyukuri apa yang dia miliki dan mensyukuri hidupnya.

Bersyukur adalah cara memotivasi diri untuk bangkit dari keterpurukan.

Merdeka

Tujuh belas Agustus tahun 2021 benar-benar sepi. Tak ada aktivitas seperti apel bendera, pagawai, dan kegiatan yang meramaikan. Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Keramaian dan berkumpul pun dilarang. Jika diadakan pun, jumlah terbatas. Jaga protokol kesehatan. Ini dilakukan demi keselamatan bagi kita semua.

Apakah hal semacam ini melanggar kebebasan bergerak bagi masyarakat? Tentu tidak. Kebebasan yang ada didalam diri setiap harus pun harus mengikuti aturan. Rasanya, kebebasan tak lepas dari namanya aturan atau norma umum, yang mengatur kehidupan masyarakat secara umum.

Merah putih dikibarkan secara serentak dan bersama menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Indonesia tatkala HUT RI. Merah Putih, lambang keberanian para pahlawan kita yang berjuang untuk memerdekakan dari para penjajah.

Merah putih juga kini harus senantiasa melambangkan keberanian bagi warga Indonesia untuk tetap dikibarkan, walau Ibu Pertiwi sedang sakit. Pengibaran Merah Putih, bisa dijalankan oleh keluarga secara sederhana. Sebagai bukti bahwa keberanian untuk hidup negeri +62 dan mengheningkan cipta mendoakan para pahlawan kita.

Ibu Pertiwi kini sedang sakit, itulah sepenggal syair Lagu Ibu Kita Kartini. Ketika lagu ini didengunkan, tercuatu semangat Kartini memperjuangkan pendidikan bagi kaumnya, ketika zamannya pendidikan hanya dikhusukan kaum Adam.

Ibu Pertiwi kini sedang sakit, ketika didengungkan kembali disaat 17 Agustus seperti sekarang, tentu akan menampilkan begitu banyak persoalan negara ini yang sedang menjadi tantangan untuk kita. Wabah pandemi Covid-19 yang menjadi pembunuh bagi kita. Inilah juga bentuk penjajah baru dengan wajah dan cara yang tak kelihatan.

Ibu Pertiwi kini sedang sakit, dengan bentuk dan cara yang lain, yaitu kemerosotan ekonomi, ketidakpatuhan kita akan peraturan pemberantasan Covid-19, korupsi, dan pergolakan internal birokrasi seputar etos kerja, serta penghayatan demokrasi kita dengan wajah baru, seakan demokrasi Pancasila menjadi sesuatu yang momok.

17 Agustus suatu peristiwa keramat dan begitu bersejerah bagi republik ini. Merdeka, inilah semboyan yang harus didengunkan tidak harus dengan suara yang lantang. Tetapi pelan dan halus agar merasuk dalam sanubari kita. Biar MERDEKA menumbuhkan nilai-nilai baru. Biar MERDEKA memekarkan semangat juang baru untuk bersama melawan penjajah dengan wajah dan cara baru ini.

17 Agustus 2021, Merah Putih tetap dikibarkan. Suatu tradisi yang harus diwariskan. Karena merah, simbol darah, tanda kehidupan. Dan kehidupan ini harus tetap hadir di negeri Indonesia ini.

Putih, tanda kesucian jiwa anak bangsa. Simbol yang aktif memperjuangkan hidupnya. Putih, tanda menolak perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme. Merah Putih melahirkan patriotik baru masa kini, untuk bangkit dan berjuang melawan ketidakadilan.

Menunggu giliran mati

Tiap Hari Dengar Berita Duka

Bila Tidak Mungkin Meringankan Beban Orang Minimal  Kita Dapat Menghibur

Tadi pagi , di sebuah grup WhatsApp ada seseorang membagikan berita duka dari salah satu teman.dan sekitar seminggu yang lalu masih sempat bercanda ria lewat grup,tapi hari ini ….:”  Umur masih seangkatan dan sering juga gojekan lewat group wa, walaupun jarang ketemu.tetapi rasanya kok maktratap…ngeget-geti ,

Sedang terpana dan rasa tidak percaya akan apa yang didengar,masuk lagi pesan ” lek dar lagi wae ora Ono, masih di rumah sakit dan akan dikubur secara prokes,tanpa upacara.kebetulan lek dar tetangga satu RT.boleh di bilang dia orang yang tajir dan masih muda pokok’e wong brewu semua serba ada.

Sejak  wabah”Alien” yang namanya cantik “Corona” tapi menebar maut seluruh jagat raya, kita sudah mendengarkan jerit kematian dimana mana . 

Pada awalnya ,kita masih santai dan bersikap seakan akan :”musuh masih jauh” Tetapi semakin hari sadar bahwa musuh sudah didepan mata. Satu persatu teman, tetangga kita,bahkan kerabat kita direnggut paksa oleh Corona.

Beberapa orang desa di tempat tinggal saya terlihat mengalami gejala covid-19.beberapa diantaranya bahkan mengaku terus terang kalau Indra perasannya hilang tidak merasakan apa-apa ketika makan dan minum.saran supaya diperiksa ke puskesmas atau rumah sakit tidak di gubris, selain tidak punya uang, takut di” covid” kan rumah sakit, serta hoax tentang vaksin covid-19 menjadi sebab utama.

Tulisan ini bukan fiksi dan bukan hasil rekayasa imaginasi,tapi sungguh telah terjadi  Sehingga setiap ada WhatsApp atau telpon masuk ,apalagi dimalam hari,jantung terasa berdetak lebih kencang . Serasa hidup bagaikan duduk diatas bara api menunggu giliran. Terus apakah kita tega menyimpan ponsel dalam lemari dan menguncinya ?  Kita bukan tipe manusia yang sudah mati rasa. Inilah hidup yang tidak selalu indah bagaikan kisah sinetron, terkadang terasa sangat menyakitkan 

Merawat Agar Jangan Sampai Hari Nurani Mati 

Salah satu cara agar kita dapat mengelola hati,agar nurani jangan sampai mengering dan mati rasa, adalah dengan menunjukkan kepedulian kita terhadap keluarga yang sedang dilanda kedukaan yang mendalam 

Antara lain :

  • sampaikan rasa duka kita 
  • memberikan perhatian dengan setulus hati
  • membantu bila memungkinkan
  • tunjukan bahwa diri kita ada disaat ia membutuhkan

Kehidupan yang sebenarnya adalah tentang memberi manfaat kepada banyak orang dan membuat mereka tersenyum”tidak ada yang nyata selain kematian”hidup begitu singkat,Urip Ming mampir ngombe.lalu apa yang kita sombong kan, teruslah berbenah diri,karena kita tidak tahu kapan kita dipanggil.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai