Obong – obong part 2

CARI BANGKRUT BERTAMBAH KAYA

Anda amati, kemanapun lalat terbang yang ia temukan kotoran, dan kemanapun lebah terbang yang ia temukan kuntum bunga. Kedua makhluk ini hanya temukan apa yang mereka sadari.

Dan Anda semuanya seperti itu, hidup di dunia ini hanya temukan apa yang Anda sadari.

Kalau Anda temukan kemiskinan, sebenarnya rasa miskin yang Anda sadari. Kalau Anda kaya, maka rasa kaya yang Anda sadari, sebab lalat dan lebah saja hanya temukan apa yang mereka sadari.

Saya pernah cerita, ketika Anda mau jadi orang kaya, yang diubah oleh-Nya itu hanya kesadaran Anda, rasa di dalam hati Anda. Diubah dari rasa miskin menjadi punya rasa kaya. Itu saja.

Dulu waktu saya miskin kerja saya lebih keras ketimbang sekarang. Kesibukkan juga mungkin lebih padat dulu sewaktu miskin. Anehnya, lah kok sekarang lebih nyantai malah lebih punya duit?

Ternyata karena dulu yang saya sadari dalam hidup saya adalah rasa miskin, dan ketika saya akan dirubah keadaan finansialnya, yang berubah cuma sadarnya saja, sekarang saya menyadari kalau diri saya kaya.

Misal, dulu waktu miskin, saya melihat pengeluaran finansial sebagai beban, yang bila menyapa hidup saya, itu berarti penderitaan, pengurangan isi dompet, dan lain-lain. Karena terdorong rasa miskin, jadinya saya main efesien, sedikit pengeluaran finansial bagi saya adalah kekayaan.

Sekarang jadi berubah mind sett+nya, dulu pengeluaran finansial jadi beban, sekarang malahan jadi kebanggan. Karena terpacu rasa kaya, saya sadar sepenuhnya mengeluarkan uang itu justru kekayaan. Sebab realita di mana-mana orang kaya jelas orang yang pengeluarannya besar. Orang kaya belinya saja tanah, rumah, mobil, emas, mereka besar pengeluarannya.

Sehingga dari miskin menjadi kaya cuma berubah sadarnya saja, rasa hatinya yang berganti dari rasa miskin menjadi rasa kaya.

Sederhana miskin jadi kaya cuma mengganti rasa saja? Seolah-olah begitu Anda baca artikel ini, Anda bisa mengubahnya?

Nanti dulu!

Kalau Anda punya rasa cinta pada A, bisakah Anda mengganti rasa hatinya jadi benci dalam hitungan detik? Tidak. Dari cinta menjadi benci butuh proses lama.

Kadang sudah jelas-jelas telah menikah dengan yang lain sampai punya 5 anak, rasa cinta pada mantan pacar di masa lalu juga belum kendur.

Sebaliknya pula, Anda yang benci pada seseorang, tidak bisa begitu saja berganti rasa cinta sekalipun sudah didalili ratusan firman Tuhan. Butuh waktu dan proses untuk mengubah rasa benci jadi cinta.

Begitu pula rasa miskin berubah jadi rasa kaya, butuh proses lama, tidak bisa begitu saja berubah.

Melalui serangkaian perjuangan hidup, jatuh-bangun, konsistensi, jerih-payah, tekad, sabar, dan proses-proses lainnya, rasa kaya itu baru bisa didapatkan di hati.

Nah sesudah rasa kaya ter-update pada kesadaran Anda, baru segala hal bisa konyol kejadiannya. Bisa jadi Anda hambur-hamburkan uang, malah Anda makin dikayakan, sebab rasa kaya Anda yang memanggilnya.

Saya ambil contoh kisah Abdurrahman bin Auf yang dulu sekali pernah saya posting.

Kisahnya ketika Rasulullah S.A.W menyetempel Abdurrahman bin Auf akan masuk surga paling akhir masuk surga di antara 10 sahabat Nabi S.A.W yang lain. Abdurrahman bin Auf terlalu kaya, sehingga proses hisabnya lama, surganya pun jadi paling akhir.

Mendengar ini, Abdurrahman bin Auf berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk surga lebih awal.

Setelah perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan para sahabat membusuk di pohonnya karena tidak sempat memanen sebab ditinggal mengikuti perang Tabuk.

Abdurrahman bin Auf yang ingin miskin menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur. Kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba ludes diborong Abdurrahman bin Auf. Para Sahabat Nabi gembira, Abdurrahman bin Auf gembira juga, sebab berharap jatuh miskin.

Di luar prediksi Abdurrahman bin Auf, tiba-tiba datang utusan dari Yaman membawa berita. Raja Yaman mencari kurma busuk. Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah kurma busuk. Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Bego kan? Jelas-jelas Abdurrahman bin Auf bertindak cari bangkrut, tapi malah menjadi rezeki besar. Itu disebabkan rasa kaya di dalam hati Abdurrahman bin Auf yang memanggilnya.

Sebaliknya, sekalipun bertindak cari untung, tapi dengan rasa miskin di dalam hati, tindakan cari untung bisa memanggil kebangkrutan. Misal, sudah merencana dengan cerdas akan buka bisnis A dengan tekad modal hutang bank. Bisnis A ini akan membuka keuntungan besar. Eeh dijalani bisnisnya yang lancar tanggungan hutangnya saja, bisnisnya malahan bubar gulung tikar.

Segala yang Anda temukan di kehidupan ini adalah wujud rasa hati Anda, maka ini lebah selalu temukan kuntum bunga, lalat selalu temukan kotoran. Apa yang Anda sadari dalam rasa hati, itu yang Anda temukan. Maka ini kaya harta itu tidak ada, yang ada hanyalah kaya hati.

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah S.A.W bersabda padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati, sedangkan fakir adalah fakirnya hati.” (H.R. Ibnu Hibban)

Kembali ke kisah Abdurrahman bin Auf yang ketakutan hisab lama dan telat masuk surga ini sering menjadi halusinasi akhirat bagi orang-orang yang puas miskin. Sebab ini next artikel saya besok, akan saya tuliskan “Miskin yang Masuk Surga”. Insyâ-llâh.

Dan saya percaya, rasa nyaman Anda pada kemiskinan makin terkoyak-koyak kalau besok Anda baca artikel tersebut. Anda tak sanggup lagi memilihnya.[]

Miskin itu karena gemar memelihara dan melestarikan harta

MISKIN ITU KARENA GEMAR MEMELIHARA DAN MELESTARIKAN HARTA

Saya lahir tahun 1980, jadi saya tahu persis ketika satu RW yang punya televisi cuma satu orang. Alami ada layar tancep, video dan kaset pita, bahkan lampu Petromax dan lampu baterai Efredi saya masih alami. Waktu kecil BAB di pinggir sungai dan kebun-kebun, mandi di pemandian umum karena belum ada orang punya WC dan kamar mandi di rumah.

Waktu saya kecil masih alami rata-rata anak kecil punya borok kepala karena masalah kutu rambut. Maklum shampo saja mayoritas pakai shampo merang, dan satu keluarga shamponya sama, pakai shampo merang itu. Saya masih ingat harganya, Rp 150,00 per botol.

Ketika saya menonton video-video kelimpahan alam pedesaan di watch facebook, seperti video anak-anak Myanmar yang main ke rawa dapat belut dan ikan melimpah, main ke sungai menangkapi ikan cantik-cantik. Melihat video itu saya jadi ingat lagi masa kecil saya di desa, di tahun 1980 – 1990.

Di zaman itu alam masih asri lestari, belut di sawah masih banyak, bahkan ada beberapa warga desa yang penghasilan finansialnya dari “ngobor welut” yakni berburu belut di sawah pada malam hari pakai obor minyak. Lumpur sawah masih dalam, belut sawah melimpah.

Dalam setahun ada musim belalang. Saat musim belalang, orang kampung yang “ngobor walang” yakni aktifitas berburu menangkap belalang malam hari pakai obor minyak.

Hewan yang saya rasa sekarang punah adalah kunang-kunang yang mitosnya waktu saya kecil tercipta dari kuku jenazah di kuburan. Tapi cuma mitos anak-anak.

Kekayaan alam melimpah di tahun 1980 – 1990, di waktu saya kecil. Tapi sebegitunya keberlimpahan alam, banyak orang kampung yang dicengkeram kemiskinan. Makanan pokok sehari-hari masih ada yang harus disambung pakai ubi dan talas, beli baju baru hanya waktu lebaran, 25 banding 1 rumah yang pakai plester semen, padahal kekayaan alam melimpah.

Sekarang ini sawah-sawah belutnya tak semelimpah dulu, sungai-sungai ikannya tak sebanyak dulu, efek senyawa kimia pupuk pada sawah, belut di sawah mulai punah, efek kerusakan lingkungan sungai-sungai “ilang kedunge” dan ikan sungai pun mulai punah.

Tapi Anda merasa, tidak? Mau makan belut dan ikan, dulu dengan sekarang, melimpah mana? Melimpah sekarang.

Mau belut dan ikan tinggal ke pasar. Di sawah dan sungai sudah tidak ada belut dan ikan, tapi di pasar banyak. Tehnologi ternak belut dan ikan jadikan keduanya sekarang lebih melimpah.

Dulu Tahlilan kematian berkatnya belum kenal plastik dan nasi box, masih sangat alami pakai “nasi wudok” dibungkus daun jati, ditumpangkan di atas lauk-pauk yang dibungkus daun pisang lalu diikat jadi satu pakai daun kelapa supaya bisa dicangking. Sangat alami.

Dulu lampu malam hari masih pakai lampu minyak Petromax, listrik belum masuk desa. Motor satu RT hanya satu dua orang yang punya, artinya polusi udara masih sedikit. Anak-anak belum bermain gatget masih bermain Gobak Sodor di malam hari, artinya alam masih sangat alami, minimalis tersentuh rekayasa tehnologi.

Dulu, saat alam masih asri dan lestari begitu, justru tidak ada makmurnya. Setelah alam direkayasa dengan tehnologi lalu alami kerusakan, justru Anda lebih makmur, lebih kaya.

Karena itu di pedalaman Papua, pedalaman suku Kenekes, yang masih sangat perawan alamnya, di sana tidak ada uang. Di daratan Afrika hewan-hewannya cantik, tapi satu pun di benua tersebut tidak ada negara maju.

Justru di kota-kota metropolis yang alamnya sudah penuh rekayasa tehnologi, dan alami kerusakan alam, malah uang melimpah.

Mungkin ke masa depan kerusakan alam karena rekayasa tehnologi akan makin menyeluruh di permukaan bumi, bisa jadi di pedalaman suku Kanekes kelak akan ada tower telekomunikasi dan hotel-hotel modern, sebab kiamat, kata Nabi S.A.W belum akan datang sehingga seluruh kekayaan bumi dilimpah-ruahkan. Mungkin semua negara, di masa depan akan sejajar sebagai negara maju yang kaya. Sementara, kekayaan masyarakat diperoleh justru setelah alam direkayasa dan tidak lagi asri alami.

لا تَقُومُ الساعَةُ حَتّى يَكْثُرَ فِيكُمُ المالُ، فَيَفيضَ حَتّى يَهُمَّ رَبّ المَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ، وَحَتَّى يَعْرِضَهُ، فَيَقُولُ الذِي يَعْرِضُهُ عَلَيهِ: لا أرَبَ لي

“Kiamat tidak akan datang sehingga harta jadi banyak pada kalian hingga melimpah ruah, sampai pemilik harta merasa susah temukan orang yang mau terima sedekahnya. Dan ia menawarkan (sedekahnya), lalu orang yang ia menawari sedekahnya menjawab, ‘Aku tidak butuh lagi’.” (H.R. Bukhari)

Jadi kekayaan harta itu terhubung erat dengan kemampuan Anda merusak harta dan merekayasanya.

Pernah saya jelaskan, botol Aqua yang tidak Anda rusak segelnya tidak bisa Anda nikmati kelimpahan air mineralnya, para perempuan tidak bisa dinikmati dan diambil keberlimpahannya sebagai ibu tanpa Anda rusak keperawanannya.

Harta Anda pun demikian, kalau tidak Anda rusak dan merekayasa juga tidak akan melimpah jadi kekayaan.

Kemampuan merusak harta itu seperti kemampuan sedekah, nafkah, belanja, dan biaya hidup lainnya.

Bakhil dan irit itu artinya Anda betah memelihara dan melestarikan harta, maunya harta utuh berada di tangan Anda. Ibarat Aqua terlalu sayang untuk Anda rusak segel tutupnya. Bagaimana kelimpahan airnya bisa dinikmati?

Kemampuan merekayasa harta itu seperti kemampuan bagaimana jadikan uang 100 ribu bisa jadi 1 juta. Seratus ribu buat kulakan baju. Baju dijual lagi jadinya terkumpul satu juta. Tentu merekayasa harta terhubung dengan talenta bisnis dan kerja Anda.

Nah kalau Anda awet fakir, salah satunya karena hal ini, Anda terlalu gemar memelihara dan melestarikan harta.

Gemar memelihara dan melestarikan harta karena di hati terlalu melekatinya, betah berduaan dengan harta.

jejaksinoer.com

Peka terhadap situasi

Ketika orang menyalahkan orang lain mengenai nasibnya yang kurang baik, orang tersebut sesungguhnya sudah meletakkan nasibnya di luar kontrolnya. Demikian juga ketika orang menyalahkan cuaca, situasi ekonomi, atasan, anak buah, orang tua,guru, sekolah, umurnya, jenis kelaminnya, atau masa lalu nya,

Mereka sebenarnya meletakkan kontrol perubahan untuk menjadi lebih baik di luar dirinya.dengan kata lain, dengan menyalahkan semua itu, sebenarnya dia sedang memperlemah dirinya sendiri.

Kita membedakan tiga area di dalam hidup ini :

➡️. Area di dalam kontrol

➡️. Area di dalam pengaruh.

➡️. Area di luar kontrol

Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang berada di luar kontrol kita, seperti masa lalu kita, siapa orang tua kita, siapa presiden terpilih, bagaimana situasi ekonomi, bagaimana sikap atasan kita yang sudah terjadi, jenis kelamin kita.

Kita bisa mengubah sesuatu yang berada di kontrol kita, misalnya:

↔️ kenyakinan kita

↔️sikap kita

↔️ kebiasaan kita

↔️ semangat kita

↔️ fokus kita

↔️ tujuan kita

↔️ strategi kita

↔️ cara berpikir kita

↔️ cara bertindak kita

↔️ apa yang kita baca

↔️ siapa teman kita

↔️ pendidikan kita

↔️ siapa guru kita

↔️ rencana kita

↔️ dan lain sebagainya.

Bila kita terus berfokus untuk mengembangkan hal – hal yang bisa kita kontrol,area dalam pengaruh kita akan meluas.

Misalnya, kita bisa mempengaruhi pemikiran orang lain, atasan kita, anak buah kita, situasi ekonomi,dan lain lain.

Nah yang dimaksud bertanggung jawab di sini adalah suatu sikap di mana kita bertekad untuk mengubah apapun yang berada di bawah kontrol kita untuk menjadi lebih baik.

Misalnya,ada kejadian arti atau makna padanya,lalu memperbaiki Strategi usaha kita.mungkin dengan cara memilih guru yang lebih baik, memperbaiki rencana kita, atau mungkin kita sendiri harus lebih semangat lagi.

Bila kita bertanggung jawab terhadap hal-hal yang bisa kita kontrol dan terus belajar untuk meningkatkan hal hal yang kita kontrol serta bertindak dengan menerapkan apa yang kita pelajari, kita akan selalu siap ketika kesempatan datang.dengan cara itu kita dapat” meningkatkan nasib baik”

Karena nasib baik adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan.

NASIB BAIK = PERSIAPAN +KESEMPATAN

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai